A.
LATAR
BELAKANG MUNCULNYA PEWAYANGAN
Tidak ada bukti akurat mengenai awal munculnya asal – usul dan
perkembangan pewayangan di Indonesia. Hal ini dikarenakan adanya silang
pendapat antara budayawan dan cendekiawan yang berusaha meneliti asal – usul
perkembangan pewayangan di indonesia. Sejak jaman Indonesia masih terjajah oleh
Belanda sampai sekarang hal tersebut masih dirundingkan dengan serius. Namun
hal tersebut tidak membuat orang melupakan akan kehadiran wayang dalam
kehidupan masyarakat. Di kalangan masyarakat Indonesia khususnya masyrakat
Jawa, wayang sangat akrab di pelbagai era. Hal tersebut dikarenakan wayang
merupakan salah satu buah usaha akal budi Bangsa Indonesia, sehingga
menghasilkan sikap hidup manusia Jawa yang tergambar dalam cerita pewayangan
sebagai hasil cipta kebudayaan dan kesenian yang luar biasa, dari penjelasan
inilah wayang dianggap sebagai ensiklopedia kehidupan manusia Jawa.
Awal mula munculnya wayang di zaman dahulu digunakan untuk memuja
para ruh leluhur. Setelah zaman Kerajaan Kediri dan Singasari , terutama pada
zaman Sri Airlangga dan Jayabaya, ketika di saat itu penyebaran agama Hindu
dari India mulai menyebar dalam kehidupan manusia Jawa. Zaman ini yang
melahirkan kisah Mahabarata dan Ramayana dari negeri India. Kisah tersebut
kemudian dituliskan kedalam kitab yang bertuliskan bahasa Sanskerta. Lambat
laun kedua epos tersebut disalin oleh Raja Dyah Balitung untuk kitab Ramayana,
dan Raja Sri Darmawangsa Teguh untuk kitab Mahabarata.
Kehidupan
di dunia ini dapat dikatakan sebagai perwujudan peperangan antara kedua buah kutub
yang saling bertentangan, yaitu antara kebaikan dan kejahatan, kekacauan dan
ketertiban, benar dan salah, keindahan dan keburukan, dsb. Sama halnya dengan
wayang, wayang diciptakan dalam berbagai lakon cerita yang mengandung
pertentangan dalam diri manusia . dalam pertunjukan lazimnya, wayang dibawakan
dan disampaikan oleh seorang dalang sebagai pelaku cerita tersebut secara
dialog dan gerak perbuatan yang menghidupkan tokoh wayang dan jalan cerita.[1]
B.
PERKEMBANGAN
WAYANG DI TANAH JAWA
Di Indonesia wayang terdapat banyak model, namun untuk wilayah Jawa
yang terkenal adalah wayang kulit purwa. Eksistensi wayang kulit purwa saat ini
masih digemari oleh sebagian masyarakat Jawa. Hal tersebut dapat dilihat dari
perbandingan jumlah peminat yang menikmati pertunjukan wayang dibanding dengan
jenis kesenian yang lainnya. Di samping itu yang menjadi daya tarik pewayangan
adalah keragaman ceritanya yang banyak. Cerita yang ada di dalam pewayangan dapat
menyatukan masyarakat secara menyeluruh. Penyatuan itu meliputi seluruh daerah
geografi Jawa dan semua golongan sosial masyarakat Jawa.
Keberadaan wayang kulit purwa menurut buku Serat Centini dan
Sastramiruda sudah ada sejak zaman Prabu Jayabaya ( pemimpin Kerajaan
Mamenang, tahun 989M), dimana pada zaman itu wayang digambarkan di atas daun
lontar. Pada masa ini wayang berkaitan sangat erat dengan unsur religius,
dimana wayang digunakan sebagai media untuk menyembah para leluhur yang sudah
meninggal.
Selanjutnya, ada perubahan fisik yang terjadi pada wayang kulit
purwa. Hal ini terjadi pada pemerintahan Prabu Suryamiluhur ( pemimpin Kerajaan
Jenggala, tahun 1244M ). Perubahan ini terlihat pada media pembuatan wayang dan
kreasi pada wayang, media yang digunakan adalah kertas jawa (kulit kayu) dan
kreasi pada wayang terdapat penjepit pada sisi – sisi yang terbuat dari kayu,
semua itu dilakukan agar dapat tergulung rapi.
Perkembangan selanjutnya pada masa Raja Brawijaya (pemerintah
Kerajaan Majapahit, tahun 1379M). Pada masa ini terjadi perubahan derastis pada
wayang kulit purwa. Pembuatan wayang kulit purwa terlihat lebih rapi dengan
adanya kreasi seni lukis dengan berbagai warna dan ada tambahan sehelai
pakaian, yang akhirnya wayang ini berubah nama menjadi wayang sunggingan. Selanjutnya perkembangan wayang
lebih disempurnakan oleh Raden Patah ( pemimpin daerah Jawa, Demak tahun 1515M)
untuk alat pembantu penyebaran agama Islam.
Wayang yang awalnya digunakan sebagai barang yang diskralkan dalam
ritual beribadah untuk menghormati leluhur pada masa kejayaan Hindu – Budha,
perlahan beralih fungsi menjadi media dakwah ketika Islam mulai berjaya. Dakwah
menggunakan wayang sering dilakukan oleh para wali yang ada di tanah Jawa dalam
penyebaran agama Islam. Perombakan mulai terjadi, para wali berlomba – lomba
membuat cerita dan lakon-lakon baru yang sesuai dengan falsafah ajaran Islam,
alat-alat gamelan baru sebagai pengiring pergelaran wayang, dan hiasan-hiasan
lainnya agar pertunjukan menjadi semakin menarik perhatian masyarakat, sehingga
perlahan masyarakat menerima ajaran Islam sebagai agama baru mereka. Agar
terlihat sempurna dalam penyampaian dakwah, tekstur wayang purwa dirubah pada
tahun 1520. Wayang dibuat lebih pipih dalam bentuk miring sehingga tidak
menyerupai wayang yang telah ada pada zaman Hindu-Budha.[2]
Bahan yang digunakan dalam pembuatan wayang ada perbedaan dengan sebelumnya.
Pada zaman ini wayang terbuat dari kulit Kerbau yang dihaluskan dan ditatah
kemudian diberi gapit ditegahnya sebagai pegangan sang dalang, dan agar mudah
ditancapkan di pelepah pisang. Perombakan itu tidak terjadi secara frontal, ada
unsur kesamaan pada wayang tersebut. Tangan masih bersatu dalam tubuh wayang
dan pola gambarnya masih diambil dari wayang beber zaman Majapahit.
Berjalannya waktu, penyempurnaan semakin digencarkan. Tokoh yang
memperkasai adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Sunan Giri menciptakan
wayang-wayang jenis raksasa, sedangkan Raden Patah menciptakan gunungan (kayon)
sebagai pembuka cerita, perubahan adegan cerita, dan penutup cerita wayang.
Perkembangan mulai terasa cepat, banyaknya tokoh baru yang bermunculan membuat
wayang semakin terkenal dikalangan masyarakat.
Pada masa kerajaan Mataram, bentuk wayang purwa semakin bertambah
dengan adanya bentuk burung, gajah, dan tatahan wayang yang semakin halus.
Penyempurnaan tidak hanya terjadi pada hal itu saja, namun ada perubahan dalam
bentuk karakter tokoh wayang tertentu dalam suatu kondisi dan keadaan tertentu,
atau yang sering disebut sebagai wanda.
Wayang kulit purwa mendapat tambahan aksen berbeda pada mata di
setiap tokohnya. Penambahan ini dilakukan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma
(1563). Perubahan pada mata ini ditujukan agar dapat membedakan sifat dan
karakter para tokoh dalam pewayangan. Jenis mata dibedakan menjadi beberapa
jenis, yaitu liyepan, thelengan, dondongan, dsb. Perubahan tidak
berhenti sampai sini saja, namun setelah era ini masih terjadi perubahan dalam
wayang. Tahun 1680, Raja Amangkurat (pemimpin Mataram) melakukan penambahan
pada tokoh wayang baru yang dikenal oleh nama Punakawan. Hingga pada massa
Mangkunegara (1850-1860), wayang telah diakui sebagai milik masyarakat Jawa dan
telah menyebar keseluruh tanah Jawa. Keberadaan wayang kulit purwa yang sarat
dengan nilai hidup untuk membangun perwatakan manusia jawa, khususnya agar
menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan budaya Jawa.[3]
Cerita wayang kulit purwa bersumber pada wiracarita (buku induk)
atau babon dari kitab Mahabharatan dan Ramayan dari negeri India. Tidak
hanya bentuk dan karakter tokoh yang berubah namun ceritanyapun ikut berubah. Secara
garis besar, muncul tiga jenis cerita wayang, yakni sebagai berikut :[4]
a.
Cerita
baku, cerita yang asli dari kitab Mahabharata dan Ramayanga tanpa mentimpang
dari asalnya.
b.
Cerita
carangan kadapur, cerita baku dari buku induk yang telah dikembangkan oleh
kreativitas sang dalang.
c.
Cerita
carangan, cerita baru yang dikembangkan oleh kreativitas dalang dengan tidak
melenceng dari alur cerita baku, sehingga cerita tersebut tidak terdapat dalam
buku induk.
Pada
dasarnya, pakem standar cerita wayang purwa dari buku panduan pedalangan memuat
empat siklus utama, yaitu cerita dewa-dewa (kadewan) dalam kisah lakon
purwa carita, siklus Arjuna Sasrabahu dalam kisah Lokapala, siklus Ramayana
dalam kisah Rama, dan siklus Mahabharata dalam lakon pandawa hingga perang Bhataryuda.
Lakon dalam istilah pedhalangan dikenal dalam tiga jenis, yaitu lakon baku,
lakon sempalan, dan lakon carangan. Menurut kriteria pergeleran lakon dibagi
menjadi delapan, yaitu lakon raben atau alap-alapan, lakon lahir, lakon kraman,
lakon wahyu, lakon mistik, lakon tragedi, lakon ruwat, dan lakon
jumenengan.dapat sisimpulkan bahwa kriteria cerita merupakan sumber lakon
sebagai pedoman pelaksanaan teknik wayang yang akan disajikan.
Menurut Prof.K.M.A Machfoel tentang makna pewayangan, yakni Semar,
Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Keempat figur nama-namanya sama
sekali tidak terdapat dalam epos Hindu Ramayana dan Mahabrata sebagai sumber
pewayangan aslinya. Munculnya figur punakawan tersebut merupakan hasil kreasi Wali
Sang Walet tinelon untuk meragakan serta mengabdikan fungsi watak, tugas
konsepsional Walisongo dan para mubaligh islam, sedangkan nama-namanya
merupakan sebutan bahasa kuno, tetapi berasal dari bahasa arab sebagaimana nama
Semar diambil dari bahasa arab yaitu Ismar yang artinya paku, berfungsi
sebagai goyah. Ibarat ajaran islam yang didakwahkan para walisongo diseluruh
kerajaan majapahit, yang pada waktu itu sedang dalam pergolakan dengan
berakhirnya didirikan kerajaan Demak oleh raden patah. Hal senada sesuai dengan
hadits Al-Islamu ismaruddunnya yang berarti islam adalah pengokoh (pku
pengokoh) keselamatan dunia. Naala Qoriin oleh pengucapan lidah jawa
menjadi Nala Gareng yang berarti memperoleh banyak teman, dan tugas
konsepsional para walisongo sebagai juru dakwah (dai) ialah untuk memperoleh
sebanyak-banyaknya kawan untuk kembali ke jalan Tuhan dengan sikap arif dan
harapan yang baik. Fatruk oleh pengucapan lidah jawa menjadi Petruk.
Kata tersebut merupakan kata pangkal kalimat pendek dari sebuah wejangan
tasawuf tinggi yang berbunyi: Fatruk kulla maa siwallahi, yang artinya
tinggalkan semua apapun yang selain Allah. Wejangan tersebut kemudian menjadi
watak pribadi para wali dan mubaligh pada waktu itu. Baghaa oleh
pengucapan lidah jawa menjadi Bagong, yang berarti berontak terhadap
kebathilan atau kemungkaran suatu tindakan antu kesalahan. Dalam versi lain
berasal dari kata Baqa’ (arab) yang berarti kekal, langgeng, artinya
semua makhluk nantinya di akhirat mengalami hidup kekal.
Wayang sebagai titik temu
nilai budaya Jawa dan Islam adalah suatu momentum yang sangat berharga bagi
perkembangan khasanah budaya Jawa. Sebagaiman kalimat Syahadat merupakan
kalimat persaksian yang semula dijadikan Jimat (siji dirumat) kekuatan
spiritual yang kemudian ditradisikan dalam sekatenan. Kalimat Syahadatain,
yakni Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul kemudian ditradisikan dan
disosialisasikan dalam kegiatan grebeg maulud atau grebeg sekatenan yang
diselenggarakan mulai tanggal 1 sampai dengan 12 Maulud, setiap tahunnya.[5]
[1] Ardian kresna, Mengenal Wayang, Jogjakarta:
laksana, 2012, hlm 20.
[2] Ardian kresna, Mengenal Wayang, Jogjakarta:
laksana, 2012, hlm.34.
[3] Ardian kresna, Mengenal Wayang, Jogjakarta:
laksana, 2012, hlm.23.
[4] Ardian kresna, Mengenal Wayang, Jogjakarta:
laksana, 2012, hlm.36.
[5] H. Abdul Jamil, dkk, Islam
dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: GAMA MEDIA, 2000, hlm. 179.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar