Rabu, 08 Mei 2013

Pewayangan di Tanah Jawa



A.      LATAR BELAKANG MUNCULNYA PEWAYANGAN
Tidak ada bukti akurat mengenai awal munculnya asal – usul dan perkembangan pewayangan di Indonesia. Hal ini dikarenakan adanya silang pendapat antara budayawan dan cendekiawan yang berusaha meneliti asal – usul perkembangan pewayangan di indonesia. Sejak jaman Indonesia masih terjajah oleh Belanda sampai sekarang hal tersebut masih dirundingkan dengan serius. Namun hal tersebut tidak membuat orang melupakan akan kehadiran wayang dalam kehidupan masyarakat. Di kalangan masyarakat Indonesia khususnya masyrakat Jawa, wayang sangat akrab di pelbagai era. Hal tersebut dikarenakan wayang merupakan salah satu buah usaha akal budi Bangsa Indonesia, sehingga menghasilkan sikap hidup manusia Jawa yang tergambar dalam cerita pewayangan sebagai hasil cipta kebudayaan dan kesenian yang luar biasa, dari penjelasan inilah wayang dianggap sebagai ensiklopedia kehidupan manusia Jawa.
Awal mula munculnya wayang di zaman dahulu digunakan untuk memuja para ruh leluhur. Setelah zaman Kerajaan Kediri dan Singasari , terutama pada zaman Sri Airlangga dan Jayabaya, ketika di saat itu penyebaran agama Hindu dari India mulai menyebar dalam kehidupan manusia Jawa. Zaman ini yang melahirkan kisah Mahabarata dan Ramayana dari negeri India. Kisah tersebut kemudian dituliskan kedalam kitab yang bertuliskan bahasa Sanskerta. Lambat laun kedua epos tersebut disalin oleh Raja Dyah Balitung untuk kitab Ramayana, dan Raja Sri Darmawangsa Teguh untuk kitab Mahabarata.
Kehidupan di dunia ini dapat dikatakan sebagai perwujudan peperangan antara kedua buah kutub yang saling bertentangan, yaitu antara kebaikan dan kejahatan, kekacauan dan ketertiban, benar dan salah, keindahan dan keburukan, dsb. Sama halnya dengan wayang, wayang diciptakan dalam berbagai lakon cerita yang mengandung pertentangan dalam diri manusia . dalam pertunjukan lazimnya, wayang dibawakan dan disampaikan oleh seorang dalang sebagai pelaku cerita tersebut secara dialog dan gerak perbuatan yang menghidupkan tokoh wayang dan jalan cerita.[1]

B.       PERKEMBANGAN WAYANG DI TANAH JAWA
Di Indonesia wayang terdapat banyak model, namun untuk wilayah Jawa yang terkenal adalah wayang kulit purwa. Eksistensi wayang kulit purwa saat ini masih digemari oleh sebagian masyarakat Jawa. Hal tersebut dapat dilihat dari perbandingan jumlah peminat yang menikmati pertunjukan wayang dibanding dengan jenis kesenian yang lainnya. Di samping itu yang menjadi daya tarik pewayangan adalah keragaman ceritanya yang banyak. Cerita yang ada di dalam pewayangan dapat menyatukan masyarakat secara menyeluruh. Penyatuan itu meliputi seluruh daerah geografi Jawa dan semua golongan sosial masyarakat Jawa.
Keberadaan wayang kulit purwa menurut buku Serat Centini dan Sastramiruda sudah ada sejak zaman Prabu Jayabaya ( pemimpin Kerajaan Mamenang, tahun 989M), dimana pada zaman itu wayang digambarkan di atas daun lontar. Pada masa ini wayang berkaitan sangat erat dengan unsur religius, dimana wayang digunakan sebagai media untuk menyembah para leluhur yang sudah meninggal.
Selanjutnya, ada perubahan fisik yang terjadi pada wayang kulit purwa. Hal ini terjadi pada pemerintahan Prabu Suryamiluhur ( pemimpin Kerajaan Jenggala, tahun 1244M ). Perubahan ini terlihat pada media pembuatan wayang dan kreasi pada wayang, media yang digunakan adalah kertas jawa (kulit kayu) dan kreasi pada wayang terdapat penjepit pada sisi – sisi yang terbuat dari kayu, semua itu dilakukan agar dapat tergulung rapi.
Perkembangan selanjutnya pada masa Raja Brawijaya (pemerintah Kerajaan Majapahit, tahun 1379M). Pada masa ini terjadi perubahan derastis pada wayang kulit purwa. Pembuatan wayang kulit purwa terlihat lebih rapi dengan adanya kreasi seni lukis dengan berbagai warna dan ada tambahan sehelai pakaian, yang akhirnya wayang ini berubah nama menjadi wayang  sunggingan. Selanjutnya perkembangan wayang lebih disempurnakan oleh Raden Patah ( pemimpin daerah Jawa, Demak tahun 1515M) untuk alat pembantu penyebaran agama Islam.
Wayang yang awalnya digunakan sebagai barang yang diskralkan dalam ritual beribadah untuk menghormati leluhur pada masa kejayaan Hindu – Budha, perlahan beralih fungsi menjadi media dakwah ketika Islam mulai berjaya. Dakwah menggunakan wayang sering dilakukan oleh para wali yang ada di tanah Jawa dalam penyebaran agama Islam. Perombakan mulai terjadi, para wali berlomba – lomba membuat cerita dan lakon-lakon baru yang sesuai dengan falsafah ajaran Islam, alat-alat gamelan baru sebagai pengiring pergelaran wayang, dan hiasan-hiasan lainnya agar pertunjukan menjadi semakin menarik perhatian masyarakat, sehingga perlahan masyarakat menerima ajaran Islam sebagai agama baru mereka. Agar terlihat sempurna dalam penyampaian dakwah, tekstur wayang purwa dirubah pada tahun 1520. Wayang dibuat lebih pipih dalam bentuk miring sehingga tidak menyerupai wayang yang telah ada pada zaman Hindu-Budha.[2] Bahan yang digunakan dalam pembuatan wayang ada perbedaan dengan sebelumnya. Pada zaman ini wayang terbuat dari kulit Kerbau yang dihaluskan dan ditatah kemudian diberi gapit ditegahnya sebagai pegangan sang dalang, dan agar mudah ditancapkan di pelepah pisang. Perombakan itu tidak terjadi secara frontal, ada unsur kesamaan pada wayang tersebut. Tangan masih bersatu dalam tubuh wayang dan pola gambarnya masih diambil dari wayang beber zaman Majapahit.
Berjalannya waktu, penyempurnaan semakin digencarkan. Tokoh yang memperkasai adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Sunan Giri menciptakan wayang-wayang jenis raksasa, sedangkan Raden Patah menciptakan gunungan (kayon) sebagai pembuka cerita, perubahan adegan cerita, dan penutup cerita wayang. Perkembangan mulai terasa cepat, banyaknya tokoh baru yang bermunculan membuat wayang semakin terkenal dikalangan masyarakat.
Pada masa kerajaan Mataram, bentuk wayang purwa semakin bertambah dengan adanya bentuk burung, gajah, dan tatahan wayang yang semakin halus. Penyempurnaan tidak hanya terjadi pada hal itu saja, namun ada perubahan dalam bentuk karakter tokoh wayang tertentu dalam suatu kondisi dan keadaan tertentu, atau yang sering disebut sebagai wanda.
Wayang kulit purwa mendapat tambahan aksen berbeda pada mata di setiap tokohnya. Penambahan ini dilakukan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma (1563). Perubahan pada mata ini ditujukan agar dapat membedakan sifat dan karakter para tokoh dalam pewayangan. Jenis mata dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu liyepan, thelengan, dondongan, dsb. Perubahan tidak berhenti sampai sini saja, namun setelah era ini masih terjadi perubahan dalam wayang. Tahun 1680, Raja Amangkurat (pemimpin Mataram) melakukan penambahan pada tokoh wayang baru yang dikenal oleh nama Punakawan. Hingga pada massa Mangkunegara (1850-1860), wayang telah diakui sebagai milik masyarakat Jawa dan telah menyebar keseluruh tanah Jawa. Keberadaan wayang kulit purwa yang sarat dengan nilai hidup untuk membangun perwatakan manusia jawa, khususnya agar menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan budaya Jawa.[3]
Cerita wayang kulit purwa bersumber pada wiracarita (buku induk) atau babon dari kitab Mahabharatan dan Ramayan dari negeri India. Tidak hanya bentuk dan karakter tokoh yang berubah namun ceritanyapun ikut berubah. Secara garis besar, muncul tiga jenis cerita wayang, yakni sebagai berikut :[4]
a.     Cerita baku, cerita yang asli dari kitab Mahabharata dan Ramayanga tanpa mentimpang dari asalnya.
b.    Cerita carangan kadapur, cerita baku dari buku induk yang telah dikembangkan oleh kreativitas sang dalang.
c.     Cerita carangan, cerita baru yang dikembangkan oleh kreativitas dalang dengan tidak melenceng dari alur cerita baku, sehingga cerita tersebut tidak terdapat dalam buku induk.
Pada dasarnya, pakem standar cerita wayang purwa dari buku panduan pedalangan memuat empat siklus utama, yaitu cerita dewa-dewa (kadewan) dalam kisah lakon purwa carita, siklus Arjuna Sasrabahu dalam kisah Lokapala, siklus Ramayana dalam kisah Rama, dan siklus Mahabharata dalam lakon pandawa hingga perang Bhataryuda. Lakon dalam istilah pedhalangan dikenal dalam tiga jenis, yaitu lakon baku, lakon sempalan, dan lakon carangan. Menurut kriteria pergeleran lakon dibagi menjadi delapan, yaitu lakon raben atau alap-alapan, lakon lahir, lakon kraman, lakon wahyu, lakon mistik, lakon tragedi, lakon ruwat, dan lakon jumenengan.dapat sisimpulkan bahwa kriteria cerita merupakan sumber lakon sebagai pedoman pelaksanaan teknik wayang yang akan disajikan.
Menurut Prof.K.M.A Machfoel tentang makna pewayangan, yakni Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Keempat figur nama-namanya sama sekali tidak terdapat dalam epos Hindu Ramayana dan Mahabrata sebagai sumber pewayangan aslinya. Munculnya figur punakawan tersebut merupakan hasil kreasi Wali Sang Walet tinelon untuk meragakan serta mengabdikan fungsi watak, tugas konsepsional Walisongo dan para mubaligh islam, sedangkan nama-namanya merupakan sebutan bahasa kuno, tetapi berasal dari bahasa arab sebagaimana nama Semar diambil dari bahasa arab yaitu Ismar yang artinya paku, berfungsi sebagai goyah. Ibarat ajaran islam yang didakwahkan para walisongo diseluruh kerajaan majapahit, yang pada waktu itu sedang dalam pergolakan dengan berakhirnya didirikan kerajaan Demak oleh raden patah. Hal senada sesuai dengan hadits Al-Islamu ismaruddunnya yang berarti islam adalah pengokoh (pku pengokoh) keselamatan dunia. Naala Qoriin oleh pengucapan lidah jawa menjadi Nala Gareng yang berarti memperoleh banyak teman, dan tugas konsepsional para walisongo sebagai juru dakwah (dai) ialah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya kawan untuk kembali ke jalan Tuhan dengan sikap arif dan harapan yang baik. Fatruk oleh pengucapan lidah jawa menjadi Petruk. Kata tersebut merupakan kata pangkal kalimat pendek dari sebuah wejangan tasawuf tinggi yang berbunyi: Fatruk kulla maa siwallahi, yang artinya tinggalkan semua apapun yang selain Allah. Wejangan tersebut kemudian menjadi watak pribadi para wali dan mubaligh pada waktu itu. Baghaa oleh pengucapan lidah jawa menjadi Bagong, yang berarti berontak terhadap kebathilan atau kemungkaran suatu tindakan antu kesalahan. Dalam versi lain berasal dari kata Baqa’ (arab) yang berarti kekal, langgeng, artinya semua makhluk nantinya di akhirat mengalami hidup kekal.
     Wayang sebagai titik temu nilai budaya Jawa dan Islam adalah suatu momentum yang sangat berharga bagi perkembangan khasanah budaya Jawa. Sebagaiman kalimat Syahadat merupakan kalimat persaksian yang semula dijadikan Jimat (siji dirumat) kekuatan spiritual yang kemudian ditradisikan dalam sekatenan. Kalimat Syahadatain, yakni Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul kemudian ditradisikan dan disosialisasikan dalam kegiatan grebeg maulud atau grebeg sekatenan yang diselenggarakan mulai tanggal 1 sampai dengan 12 Maulud, setiap tahunnya.[5]


[1] Ardian kresna, Mengenal Wayang, Jogjakarta: laksana, 2012, hlm 20.
[2] Ardian kresna, Mengenal Wayang, Jogjakarta: laksana, 2012, hlm.34.
[3] Ardian kresna, Mengenal Wayang, Jogjakarta: laksana, 2012, hlm.23.
[4] Ardian kresna, Mengenal Wayang, Jogjakarta: laksana, 2012, hlm.36.
[5] H. Abdul Jamil, dkk, Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: GAMA MEDIA, 2000, hlm. 179.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Entri Populer