Jumat, 23 November 2012

SANAD dan MATAN Hadis

Hadis Nabi adalah sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an. Dilihat dari segi periwayatannya, hadis berbeda dengan al-Qur’an. Pada al-Qur’an, semua periwayatannya berlangsung secara mutawatir, sedangkan hadis sebagian periwayatannya ada yang berlangsung secara mutawatir dan sebagian ada pula yang berlangsung secara ahad. Pada hadis mengenal istilah shohih, hasan, mardud, dhoif, dll. Pada hadis, kita harus cermat mengenai siapa yang meriwayatkan, bagaimana kualitas dan isi dari hadis tersebut. Itu semua dilakukan tak lain untuk kualitas suatu hadis itu sendiri, yang nantinya membawa pengaruh pada Hukum Islam. Hal tersebut hanya berlaku pada hadis, dan al-Qur’an tidak mengenal semacam itu. Hal itu dikarenakan periwayatan pada al-Qur’an tidak diragukan lagi isinya. Maka dari latar belakang itulah penelitian hadis dilakukan. Inti diadakannya penelitian itu lebih kepada kehati-hatian (al-ihtiyath) ulama dalam menentukan dasar hukum pada suatu agama.
Hal semacam itulah yang menyebabkan pengkajian hadis tidak hanya menyangkut kandungan dan aplikasinya saja, tetapi juga pada segi sanad, matan, dan periwayatannya. Dari segi inilah para ulama hadis sangat berhati-hati dalam melakukan periwayatan. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai penelitian hadis, alangkah baiknya kalau kita tahu mengenai apa yang dimaksud sanad dan matan? apa yang dimaksud dengan penelitian sanad dan matan? apa yang menjadi latar belakang pada penelitian tersebut? Apa tujuan diadakannya penelitian tersebut? Kaidah-kaidah apa yang digunakan pada penelitian tersebut? Dengan mengetahui itu semua, maka penelitian yang dilakukan ulama tentang kualitasd dan eksistensi pada hadis akan menjadi salah satu pedoman pembelajaran yang harus dipelajari oleh setiap umat manusia.
A.    Pengertian Sanad dan Matan.
Sanad menurut bahasa artinya sandaran atau sesuatu yang kita jadikan sandaran.[1] Sandaran yang dimaksud adalah seseorang yang dijadikan tumpuan. Sanad menurut istilah adalah jalan yang menyampaikan kita kepada matan hadis Nabi Muhammad SAW.[2]  Dari definisi tersebut dijelaskan bahwa sanad terdiri atas seluruh penutur, mulai orang yang mencatat hadis tersebut dalam bukunya (kitab hadis) hingga Rasulullah. Dengan demikian, sanad memberikan gambaran keaslian suatu riwayat pada hadis.
Matan menurut bahasa adalah punggung jalan (muka jalan), tanah yang tinggi dan keras.[3] Pengertian matan dalam ilmu hadis dapat diartikan sebagai perkataan yang disebut pada akhir sanad. Sedangkan menurut istilahnya adalah,
هو الفاظ الحديث التى تتقوم بها معانيه
(matan adalah ungkapan-ungkapan hadis yang menunjukkan maksud hadis tersebut).
     Selain istilah sanad dan matan seperti yang telah diuraikan di atas, perlu pula mengetahui istilah rawi. Rawi adalah orang yang meriwayatkan atau memberikan hadis.[4] Cara rawi meriwayatkan suatu hadis dengan cara menyampaikan secara langsung atau menuliskannya dalam suatu kitab. Sumber yang diperoleh oleh rawi dapat diperoleh melalui pesan yang pernah diterima atau didengar dari seseorang (gurunya). Perbuatan menyampaikan hadis tersebut dinamakan me-rawi (riwayat)kan hadis. Berikut adalah bagian contoh dari sanad, matan dan rawi.
روى الامام البخارى قال: حدثنا محمد بن المثنى قال: حدثنا عبد الوهاب الثقفى قال: حدثنا ايوب, عن أبى قلابة, عن أنس عن النبى ص.م. قال: ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الايمان: ان يكون الله ورسوله أحب اليه مما سواهما, وان يحب المرء لايحبه الا الله, وان يكون ان يعود فى الكفر كما يكره ان يقذف فى النار
Dari hadis di atas, dapat kita ketahui bahwa hadis tersebut telah diriwayatkan oleh beberapa orang rawi, yakni : Anas sebagai rawi pertama, Abi Qalabah sebagai rawi kedua, Ayyub sebagai rawi ketiga, Abdul Wahhab al-Tsaqafi sebagai rawi keempat, Muhammad ibn al-Mutsanna sebagai rawi kelima, Imam Bukhari sebagai rawi terakhir.
     Yang dinamakan sanad adalah mulai dari : حدثنا محمد بن المثنى sampai dengan kalimat عن النبى ص.م. قال. Untuk contoh matan pada hadis di atas adalah rangkaian kalimat mulai dari ثلاث من كن فيه sampai ان يقذف فى النار.


[1] Totok Jumantoro. Kamus Ilmiah Hadis. (Jakarta: Bumi Aksara. 2002). hlm.219.
[2] M. Isa Bustamin, A. Salam. Metodologi Kritik Hadis. (Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2004). hlm.5.
[3] M. Isa Bustamin, A. Salam. Metodologi Kritik Hadis. (Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2004). hlm.59.
[4] M. Agus Solahudin, Agus Suyadi. Ulumul Hadis. (Bandung: Pustaka Setia. 2008). hlm.99.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Entri Populer