Hadis
Nabi adalah sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an. Dilihat dari segi
periwayatannya, hadis berbeda dengan al-Qur’an. Pada al-Qur’an, semua
periwayatannya berlangsung secara mutawatir, sedangkan hadis sebagian
periwayatannya ada yang berlangsung secara mutawatir dan sebagian ada
pula yang berlangsung secara ahad. Pada hadis mengenal istilah shohih,
hasan, mardud, dhoif, dll. Pada hadis, kita harus cermat mengenai siapa
yang meriwayatkan, bagaimana kualitas dan isi dari hadis tersebut. Itu semua
dilakukan tak lain untuk kualitas suatu hadis itu sendiri, yang nantinya
membawa pengaruh pada Hukum Islam. Hal tersebut hanya berlaku pada hadis, dan
al-Qur’an tidak mengenal semacam itu. Hal itu dikarenakan periwayatan pada
al-Qur’an tidak diragukan lagi isinya. Maka dari latar belakang itulah
penelitian hadis dilakukan. Inti diadakannya penelitian itu lebih kepada
kehati-hatian (al-ihtiyath) ulama dalam menentukan dasar hukum pada
suatu agama.
Hal
semacam itulah yang menyebabkan pengkajian hadis tidak hanya menyangkut
kandungan dan aplikasinya saja, tetapi juga pada segi sanad, matan, dan
periwayatannya. Dari segi inilah para ulama hadis sangat berhati-hati dalam
melakukan periwayatan. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai penelitian hadis,
alangkah baiknya kalau kita tahu mengenai apa yang dimaksud sanad dan matan?
apa yang dimaksud dengan penelitian sanad dan matan? apa yang
menjadi latar belakang pada penelitian tersebut? Apa tujuan diadakannya
penelitian tersebut? Kaidah-kaidah apa yang digunakan pada penelitian tersebut?
Dengan mengetahui itu semua, maka penelitian yang dilakukan ulama tentang
kualitasd dan eksistensi pada hadis akan menjadi salah satu pedoman
pembelajaran yang harus dipelajari oleh setiap umat manusia.
A.
Pengertian
Sanad dan Matan.
Sanad
menurut bahasa artinya sandaran atau sesuatu yang kita jadikan
sandaran.[1]
Sandaran yang dimaksud adalah seseorang yang dijadikan tumpuan. Sanad menurut
istilah adalah jalan yang menyampaikan kita kepada matan hadis Nabi
Muhammad SAW.[2]
Dari definisi tersebut dijelaskan bahwa sanad
terdiri atas seluruh penutur, mulai orang yang mencatat hadis tersebut dalam
bukunya (kitab hadis) hingga Rasulullah. Dengan demikian, sanad
memberikan gambaran keaslian suatu riwayat pada hadis.
Matan menurut bahasa adalah punggung jalan (muka jalan), tanah yang
tinggi dan keras.[3]
Pengertian matan dalam ilmu hadis dapat diartikan sebagai perkataan yang
disebut pada akhir sanad. Sedangkan menurut istilahnya adalah,
هو الفاظ الحديث التى تتقوم بها معانيه
(matan
adalah ungkapan-ungkapan hadis yang menunjukkan maksud hadis tersebut).
Selain istilah sanad dan matan seperti
yang telah diuraikan di atas, perlu pula mengetahui istilah rawi. Rawi adalah
orang yang meriwayatkan atau memberikan hadis.[4]
Cara rawi meriwayatkan suatu hadis dengan cara menyampaikan secara langsung
atau menuliskannya dalam suatu kitab. Sumber yang diperoleh oleh rawi dapat
diperoleh melalui pesan yang pernah diterima atau didengar dari seseorang
(gurunya). Perbuatan menyampaikan hadis tersebut dinamakan me-rawi (riwayat)kan
hadis. Berikut adalah bagian contoh dari sanad, matan dan rawi.
روى الامام
البخارى قال: حدثنا محمد بن المثنى قال: حدثنا عبد الوهاب الثقفى قال: حدثنا ايوب,
عن أبى قلابة, عن أنس عن النبى ص.م. قال: ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الايمان: ان
يكون الله ورسوله أحب اليه مما سواهما, وان يحب المرء لايحبه الا الله, وان يكون
ان يعود فى الكفر كما يكره ان يقذف فى النار
Dari hadis di
atas, dapat kita ketahui bahwa hadis tersebut telah diriwayatkan oleh beberapa
orang rawi, yakni : Anas sebagai rawi pertama, Abi Qalabah sebagai rawi
kedua, Ayyub sebagai rawi ketiga, Abdul Wahhab al-Tsaqafi sebagai rawi
keempat, Muhammad ibn al-Mutsanna sebagai rawi kelima, Imam Bukhari
sebagai rawi terakhir.
Yang
dinamakan sanad adalah mulai dari : حدثنا
محمد بن المثنى
sampai dengan kalimat عن النبى ص.م. قال. Untuk contoh matan pada hadis di atas
adalah rangkaian kalimat mulai dari ثلاث من كن فيه sampai ان يقذف فى
النار.
[1] Totok
Jumantoro. Kamus Ilmiah Hadis. (Jakarta: Bumi Aksara. 2002). hlm.219.
[2] M. Isa
Bustamin, A. Salam. Metodologi Kritik Hadis. (Jakarta: RajaGrafindo
Persada. 2004). hlm.5.
[3] M. Isa
Bustamin, A. Salam. Metodologi Kritik Hadis. (Jakarta: RajaGrafindo
Persada. 2004). hlm.59.
[4] M. Agus
Solahudin, Agus Suyadi. Ulumul Hadis. (Bandung: Pustaka Setia. 2008).
hlm.99.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar