Selasa, 09 Juli 2013

NUMISMATIKA DAN HERALDIK

A.    PENDAHULUAN
Museum Ronggowarsito merupakan museum terbesar di provinsi jawa tengah yang menyajikan berbagai koleksi sejarah, alam, arkeologi, kebudayaan, era pembangunan, dan wawasan nusantara. Museum ini diresmikan pada tanggal 5 juli 1989. Nama ronggowarsito diambil dari salah satu pujangga Indonesia terkenal  yaitu raden Surakarta Hardiningrat yang telah meninggalkan hasil karyanya dalam bidang filsafat dan kebudayaan . Bagi masyarakat indonesia umumnya dan masyarakat jawa pada khususunya yang sampai sekarang  dapat dikunjungi semua siapa saja .
Museum ini menempati luas tanah 1,8 ha, Selain sebagai tempat penyimpanan aset kebudayaan disana terdapat tempat-tempat khusus separti pendopo, gedung pertemuan, gedung pameran tetap, perpustakaan, laboratorium, perkantoran. Sedangkan dilihat berdasarkan sarana prasarana sangat mencukupi,disana terdapat beberapa pegawai seperti Tata Pameran, pemandu, souvenir shop, layanan Audio Visual, Free Hot Spot Area, Ruang Apresiasi Seni, Ticketing dan Travel Biro serta Limo Transport Shuttle telah di gelar menanti kunjungan masyarakat dari berbagai penjuru dan kondisi bangunan sampai saat ini terlihat tidak kalah seperti bangunan dimasa kini.
Museum tersebut memiliki total koleksi mencapai 59.784 unit yang terdiri dari berbagai kategori koleksi. Koleksi terbanyak adalah kategori numismatik-heraldika mencapai  44.961 unit yang tempatnya berada di gedung D lantai 1, yakni kumpulan mata uangtermasuk diantaranya koin, token dan uang kertas yang pernah beredar dan digunakan oleh masyarakat. Selain itu dijelaskan tentang sejarah mata uang itu sendiri, cara pembuatannya, ciri-cirinya, variasi yang ditemukan, pemalsuannya, sejarah politik terbentuknya mata uang tersebut dsb.
B.     ISI MATERI
Numismatika dan heraldik merupakan bentuk pembelajaran mengenai uang dan sejarahnya. Kata numismatika berasal dari bahasa yunani nomisma, yang berarti koin atau mata uang. Numismatika telah ada sejak zaman pemerintahan Julius Caesar (100 SM-44 SM), yang bahkan menuliskan buku tentang numismatika. Numismatika meliputi berbagai segi: sejarah, geografi, ekonomi, metalurgi (dalam hal telaah materi koin), kegunaan uang, serta proses pembuatan uang.
Koleksi numismatik Museum Ranggawarsita memiliki koleksi yang beragam. Kita dapat mengamati, misalnya, berbagai koin dan alat pembayaran dari masa kerajaan-kerajaan kuno Nusantara, uang masa kolonial, ORI dan ORIDA.
Ø  Numesmatika pada zaman pra kemerdekaan ( kerajaan)
Istilah pengenalan mata uang sudah ada sejak zaman masyarakat jawa kuno. Pada zaman tersebut mata uang yang beredar adalah jenis mata uang logam. Hal tersebut dapat dibuktikan pada relief Candi Borobudur. Jenis mata uang logam sangat diminati banyak masayarakat pada zaman itu, hal itu dikarenakan mata uang uang ini mudah dibawa dan tahan lama.
Pencetakan uang di Indonesia dilakukan pada abad 8M oleh dinasti kerajaan saylendra. Mata uang pada dinasti ini memiliki ciri khas dimana berat uang yang dibuat memiliki berat yang sama. Bahan pembuatan uang logam pada masa ini adalah emas dan perak. Selanjutnya perkembangan mata uang dilanjutkan oleh Kerajaan Daha dan Jenggala
Pada zaman Daha dan Jenggala, uang-uang emas dan perak tetap dicetak dengan berat standar, walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya. Koin emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi bundar, sedangkan koin peraknya mempunyai desain berbentuk cembung.
Perkembangan dan peredaran uang pada masa itu berjalan dengan cepat, dan disaat cepat itu pula saudagar Cina mulai berdatangan dan memulai berinteraksi dengan masyarakat lokal. Pada interaksi tersebutlah bangsa Cina menggunakan dan memperkenalkan mata uang yang berbeda dengan mata uang lokal. Berawalan dari sinilah, mata uang lokal yang terbuat dari emas dan perak dengan perlahan hilang diperedaran dan digantikan oleh mata uang dari Cina dan digunakan secara resmi untuk berdagang. Uang dari Cina tersebut dikenal dengan sebutan uang kepeng.
Seiring dengan berjalannya waktu, uang dari emas dan perak ditemukan lagi pada zaman Kerajaan Majapahit. Uang pada masa ini dikenal dengan nama uang gobog. Mata uang gobog tidak digunakan untuk transaksi pertukaran, melainkan digunakan untuk tanda penghargaan dari seorang pejabat untuk para pejabatya. Mata uang ini termasuk jenis mata uang lokal, meskipun bentuk pada jenis uang ini terdapat unsur Cina yang terletak ditengah uang tersebut. Bentuk boleh sama, namun corak berbeda dan memiliki unsur khas Indonesia, yakni berupa gambar wayang pada mata uang ini. Masyarakat pada era ini sangat menyukai mata uang uang ini, sehingga mata uang gobog populer pada masa itu.
Kemunculan uang tidak pernah berhenti dan selalu mengalami perubahan sesuai zamannya, sama halnya ketika di daerah banten, jawa bagian barat. Banten mengalami perkembangan pesat untuk pertukaran nilai mata uang. Perkembangan itu ditandai oleh datangnya pedagang. Kedatangan pedagang di Banten membuat kejayaan Majapahit lambat laun mengalami penurunan, dan akhirnya runtuh. Runtuhnya Majapahit mengubur kepopuleran uang gobog pada era selanjutnya.
Perkembangan dan perubahan uang selanjutnya terjadi pada kerajaan Samudra Pasai. Uang pada era ini dikenal dengan nama dirham/emas. Pembuatan uang dirham pertama kali dilakukan oleh raja Sultan Muhammad. Cirikhas dari uang dirham adalah adanya tulisan nama sultan dengan gelar Malik az-Zahir atau Malik at-Thahir.

Perkembangan uang selanjutnya terjadi di daerah Banten,Cirebon, Sumenep, Gowa. Pada peredaran masa perdagangan ini, banyak mata uang asing berdatangan ke Indonesia. Pedagang asing tersebut berasal dari India, Gujarat Arab dan masih banyak lainnya. Berikut merupakan contoh mata uangnya
Ø  Masa Kolonial (Penjajahan)
Masa kolonial yaitu masa ketika banyak bangsa asing, terutama bangsa-bangsa Eropa, menjelajah ke berbagai penjuru dunia (Asia, Afrika, Amerika dan Australia) untuk dijadikan koloni atau tanah jajahan mereka. Bangsa-bangsa asing yang pernah menjajah Indonesia adalah Belanda, Inggris, Portugis dan Jepang. Masa ini berlangsung dari abad ke-16 sampal abad ke-20.
Pada awal abad ke-16, pedagang-pedagang Portugis memperkenalkan serta mengedarkan uang yang disebut mat atau pasmat dan real yang dibuat dari perak.
Kemudian pada akhir abad ke-16 armada kapal dagang Belanda mendarat di Pulau Jawa. Pada tahun 1602 mereka mendirikan persekutuan dagang di Hindia-Timur, dikenal dengan nama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) atau Kompeni Belanda. Tujuan mereka di Indonesia adalah merebut Sunda Kelapa untuk dijadikan pusat kegiatan kompeni. Sunda Kelapa kemudian diganti namanya menjadi Batavia. Dari sini Kompeni Belanda mulai menjalankan siasatnya yaitu mengusir orang-orang Portugis dan merebut beberapa daerah pelabuhan penting bagi sektor perdagangan. Pada masa Kompeni Belanda banyak beredar mata uang dengan berbagai satuan nilai seperti schelling, dukat, dukatoon, doit, stuiver, rijksdaalder, gulden, dan sebagainya. Mata uang tersebut dicetak di propinsi-propinsi di negeri Belanda dan Indonesia, terutama di Batavia. Ketika Kompeni Belanda mengalami kesulitan memperoleh bahan baku logam untuk membuat mata uang, dicari alternatif lain untuk mencetak uang kertas yang menyerupai kertas berharga (sertifikat).
Mata uang diatas adalah mata uang pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Masa tersebut terjadi pada era Republik Batavia dan Kerajaan Holland. Pada masa ini Nusantara resmi memiliki mata uang sendiri yang dikenal dengan nama gulden.
Pada pemerintahan Belanda uang yang beredar juga terdapat uang logam dimana uang tersebut terdapat ciri tulisan LN dan bergambar Louis Napoleon. Louis napoleon adalah adik kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte, yang amat terkenal dalam sejarah Perancis. Ia diangkat oleh kaisar menjadi raja di Belanda. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau mata uang keluaran masa ini menampilkan wajah Louis Napoleon.  Uang ini berlaku dinegara asal pemerintah Belanda dan Indonesia. Berikut adalah beberapa gambar uang tersebut,
Indonesia juga memiliki koleksi mata uang dari penjajah lain, yakni kolonial Inggris. Kolonial Inggris membuat uang di Indonesia dengan corak full aksara jawa untuk bagian depan dan belakang uang.
Sejarah mata uang Indonesia terdapat perbedaan pada letak daerahnya. Contohnya untuk daerah Sumatra dan Jawa, daerah tersebut memiliki mata uang yang dinamakan Dolar Sumatra dan Rupiah Jawa. Namun hal tersebut tidak bertahan lama, dikarenakan adanya kebutuhan yang meningkat dan stok menipis, uang ini hilang dari peredaran, dan digantikan lagi dengan gulden. Gulden bertahan sampai masa penjajahan Jepang. Perbedaan gulden pada masa Jepang dan masa sebelumnya, terdapat pada tulisan di uang tersebut. Gulden pada masa Jepang di pecah menjadi  sen.
 
Ø  Mata Uang pada Masa setelah Kemerdekaan
Mata uang pada setelah Kemerdekaan memiliki kategori jenis yang berbeda. Kategori jenis tersebut meliputi kategori pahlawan proklamator, pahlawan nasional, alam, kebudayaan, hewan, kesenian, nelayan, dll. Berikut adalah contoh gambar sesuai kategorinya.
    

Sejatinya Mata uang yang pernah beredar di Indonesia merupakan sebuah kajian sejarah budaya dan kehidupan bangsa kita. Dimana uang digunakan sebagai alat pengungkap masa lampau. Motif dan corak kebanyakan menampilkan keindahan budaya bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Entri Populer