Museum Ronggowarsito merupakan museum terbesar di provinsi jawa
tengah yang menyajikan berbagai koleksi sejarah, alam, arkeologi, kebudayaan,
era pembangunan, dan wawasan nusantara. Museum ini diresmikan pada tanggal 5
juli 1989. Nama ronggowarsito diambil dari salah satu pujangga Indonesia
terkenal yaitu raden Surakarta
Hardiningrat yang telah meninggalkan hasil karyanya dalam bidang filsafat dan
kebudayaan . Bagi masyarakat indonesia umumnya dan masyarakat jawa pada
khususunya yang sampai sekarang dapat
dikunjungi semua siapa saja .
Museum ini menempati luas tanah 1,8 ha, Selain sebagai tempat
penyimpanan aset kebudayaan disana terdapat tempat-tempat khusus separti pendopo,
gedung pertemuan, gedung pameran tetap, perpustakaan, laboratorium,
perkantoran. Sedangkan dilihat berdasarkan sarana prasarana sangat mencukupi,disana
terdapat beberapa pegawai seperti Tata Pameran, pemandu, souvenir shop, layanan
Audio Visual, Free Hot Spot Area, Ruang Apresiasi Seni, Ticketing dan Travel
Biro serta Limo Transport Shuttle telah di gelar menanti kunjungan masyarakat
dari berbagai penjuru dan kondisi bangunan sampai saat ini terlihat tidak kalah
seperti bangunan dimasa kini.
Museum
tersebut memiliki total koleksi mencapai 59.784 unit yang terdiri dari berbagai
kategori koleksi. Koleksi terbanyak adalah kategori numismatik-heraldika
mencapai 44.961 unit yang tempatnya
berada di gedung D lantai 1, yakni kumpulan mata
uangtermasuk diantaranya koin, token dan uang kertas yang pernah beredar dan
digunakan oleh masyarakat. Selain itu dijelaskan tentang sejarah mata uang itu
sendiri, cara pembuatannya, ciri-cirinya, variasi yang ditemukan, pemalsuannya,
sejarah politik terbentuknya mata uang tersebut dsb.
B. ISI MATERI
Numismatika dan heraldik merupakan bentuk
pembelajaran mengenai uang dan sejarahnya. Kata numismatika berasal dari bahasa
yunani nomisma, yang berarti koin atau mata uang. Numismatika
telah ada sejak zaman pemerintahan Julius Caesar (100 SM-44 SM), yang bahkan
menuliskan buku tentang numismatika. Numismatika meliputi berbagai segi:
sejarah, geografi, ekonomi, metalurgi (dalam hal telaah materi koin), kegunaan
uang, serta proses pembuatan uang.
Koleksi numismatik Museum Ranggawarsita memiliki koleksi yang
beragam. Kita dapat mengamati, misalnya, berbagai koin dan alat pembayaran dari
masa kerajaan-kerajaan kuno Nusantara, uang masa kolonial, ORI dan ORIDA.
Ø Numesmatika pada zaman pra kemerdekaan ( kerajaan)
Istilah pengenalan mata uang sudah
ada sejak zaman masyarakat jawa kuno. Pada zaman tersebut mata uang yang
beredar adalah jenis mata uang logam. Hal tersebut dapat dibuktikan pada relief
Candi Borobudur. Jenis mata uang logam sangat diminati banyak masayarakat pada
zaman itu, hal itu dikarenakan mata uang uang ini mudah dibawa dan tahan lama.

Pencetakan uang di Indonesia
dilakukan pada abad 8M oleh dinasti kerajaan saylendra. Mata uang pada dinasti
ini memiliki ciri khas dimana berat uang yang dibuat memiliki berat yang sama.
Bahan pembuatan uang logam pada masa ini adalah emas dan perak. Selanjutnya
perkembangan mata uang dilanjutkan oleh Kerajaan Daha dan Jenggala
Pada zaman Daha dan Jenggala, uang-uang emas dan perak tetap dicetak dengan
berat standar, walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya. Koin
emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi bundar, sedangkan koin
peraknya mempunyai desain berbentuk cembung.

Perkembangan dan peredaran uang pada
masa itu berjalan dengan cepat, dan disaat cepat itu pula saudagar Cina mulai
berdatangan dan memulai berinteraksi dengan masyarakat lokal. Pada interaksi
tersebutlah bangsa Cina menggunakan dan memperkenalkan mata uang yang berbeda
dengan mata uang lokal. Berawalan dari sinilah, mata uang lokal yang terbuat
dari emas dan perak dengan perlahan hilang diperedaran dan digantikan oleh mata
uang dari Cina dan digunakan secara resmi untuk berdagang. Uang dari Cina
tersebut dikenal dengan sebutan uang kepeng.
Seiring dengan berjalannya waktu,
uang dari emas dan perak ditemukan lagi pada zaman Kerajaan Majapahit. Uang
pada masa ini dikenal dengan nama uang gobog.
Mata uang gobog tidak digunakan untuk transaksi pertukaran, melainkan digunakan
untuk tanda penghargaan dari seorang pejabat untuk para pejabatya. Mata uang
ini termasuk jenis mata uang lokal, meskipun bentuk pada jenis uang ini terdapat
unsur Cina yang terletak ditengah uang tersebut. Bentuk boleh sama, namun corak
berbeda dan memiliki unsur khas Indonesia, yakni berupa gambar wayang pada mata
uang ini. Masyarakat pada era ini sangat menyukai mata uang uang ini, sehingga
mata uang gobog populer pada masa
itu.

Kemunculan uang tidak pernah
berhenti dan selalu mengalami perubahan sesuai zamannya, sama halnya ketika di
daerah banten, jawa bagian barat. Banten mengalami perkembangan pesat untuk
pertukaran nilai mata uang. Perkembangan itu ditandai oleh datangnya pedagang.
Kedatangan pedagang di Banten membuat kejayaan Majapahit lambat laun mengalami
penurunan, dan akhirnya runtuh. Runtuhnya Majapahit mengubur kepopuleran uang gobog pada era selanjutnya.
Perkembangan dan perubahan uang
selanjutnya terjadi pada kerajaan Samudra Pasai. Uang pada era ini dikenal
dengan nama dirham/emas. Pembuatan
uang dirham pertama kali dilakukan
oleh raja Sultan Muhammad. Cirikhas dari uang dirham adalah adanya tulisan nama sultan dengan gelar Malik az-Zahir atau Malik at-Thahir.
![]() |
|
Perkembangan uang selanjutnya
terjadi di daerah Banten,Cirebon, Sumenep, Gowa. Pada peredaran masa
perdagangan ini, banyak mata uang asing berdatangan ke Indonesia. Pedagang
asing tersebut berasal dari India, Gujarat Arab dan masih banyak lainnya.
Berikut merupakan contoh mata uangnya


Ø Masa
Kolonial (Penjajahan)
Masa
kolonial yaitu masa ketika banyak bangsa asing, terutama bangsa-bangsa Eropa,
menjelajah ke berbagai penjuru dunia (Asia, Afrika, Amerika dan Australia)
untuk dijadikan koloni atau tanah jajahan mereka. Bangsa-bangsa asing yang
pernah menjajah Indonesia adalah Belanda, Inggris, Portugis dan Jepang. Masa
ini berlangsung dari abad ke-16 sampal abad ke-20.
Pada awal
abad ke-16, pedagang-pedagang Portugis memperkenalkan serta mengedarkan uang yang
disebut mat atau pasmat dan real yang dibuat dari perak.

Kemudian pada akhir abad ke-16 armada kapal dagang
Belanda mendarat di Pulau Jawa. Pada tahun 1602 mereka mendirikan persekutuan
dagang di Hindia-Timur, dikenal dengan nama VOC (Vereenigde Oost-Indische
Compagnie) atau Kompeni Belanda. Tujuan mereka di Indonesia adalah merebut
Sunda Kelapa untuk dijadikan pusat kegiatan kompeni. Sunda Kelapa kemudian
diganti namanya menjadi Batavia. Dari sini Kompeni Belanda mulai menjalankan
siasatnya yaitu mengusir orang-orang Portugis dan merebut beberapa daerah
pelabuhan penting bagi sektor perdagangan. Pada masa Kompeni Belanda banyak
beredar mata uang dengan berbagai satuan nilai seperti schelling, dukat,
dukatoon, doit, stuiver, rijksdaalder, gulden, dan sebagainya. Mata uang
tersebut dicetak di propinsi-propinsi di negeri Belanda dan Indonesia, terutama
di Batavia. Ketika Kompeni Belanda mengalami kesulitan memperoleh bahan baku
logam untuk membuat mata uang, dicari alternatif lain untuk mencetak uang kertas
yang menyerupai kertas berharga (sertifikat).

Mata uang diatas adalah mata uang pada masa
Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Masa tersebut terjadi pada era
Republik Batavia dan Kerajaan Holland. Pada masa ini Nusantara resmi memiliki
mata uang sendiri yang dikenal dengan nama gulden.
Pada pemerintahan Belanda uang yang
beredar juga terdapat uang logam dimana uang tersebut terdapat ciri tulisan LN
dan bergambar Louis Napoleon. Louis napoleon adalah adik kaisar
Perancis, Napoleon Bonaparte, yang amat terkenal dalam sejarah Perancis. Ia
diangkat oleh kaisar menjadi raja di Belanda. Oleh karena itu tidak
mengherankan kalau mata uang keluaran masa ini menampilkan wajah Louis
Napoleon. Uang ini
berlaku dinegara asal pemerintah Belanda dan Indonesia. Berikut adalah beberapa
gambar uang tersebut,

Indonesia juga memiliki koleksi mata uang
dari penjajah lain, yakni kolonial Inggris. Kolonial Inggris membuat uang di
Indonesia dengan corak full aksara jawa untuk bagian depan dan belakang uang.
Sejarah mata uang Indonesia terdapat
perbedaan pada letak daerahnya. Contohnya untuk daerah Sumatra dan Jawa, daerah
tersebut memiliki mata uang yang dinamakan Dolar Sumatra dan Rupiah Jawa. Namun
hal tersebut tidak bertahan lama, dikarenakan adanya kebutuhan yang meningkat
dan stok menipis, uang ini hilang dari peredaran, dan digantikan lagi dengan
gulden. Gulden bertahan sampai masa penjajahan Jepang. Perbedaan gulden pada
masa Jepang dan masa sebelumnya, terdapat pada tulisan di uang tersebut. Gulden
pada masa Jepang di pecah menjadi sen.
Ø Mata
Uang pada Masa setelah Kemerdekaan
Mata uang pada setelah Kemerdekaan memiliki kategori
jenis yang berbeda. Kategori jenis tersebut meliputi kategori pahlawan
proklamator, pahlawan nasional, alam, kebudayaan, hewan, kesenian, nelayan,
dll. Berikut adalah contoh gambar sesuai kategorinya.



Sejatinya Mata uang yang pernah beredar di Indonesia
merupakan sebuah kajian sejarah budaya dan kehidupan bangsa kita. Dimana uang
digunakan sebagai alat pengungkap masa lampau. Motif dan corak kebanyakan
menampilkan keindahan budaya bangsa Indonesia.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar