Senin, 08 Juli 2013

INTERRELASI NILAI JAWA DAN ISLAM PADA ASPEK SASTRA SERTA ASPEK PEWAYANGAN

I.         PENDAHULUAN
Bahasa Jawa sebagai salah satu bahasa daerah, garis pembinaan dan pengembangannya tunduk pada kebijakan pembinaan dan pengembangan bahasa daerah yang memiliki banyak kesusastraan seperti yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yakni sebagai bahasa komunikasi dalam masyarakat yang merupakan wujud perilaku kebahasan yang dipakai untuk menyampaikan informasi, baik yang berbentuk lisan maupun tulisan. Sebagai masyarakat jawa pemakai bahasa jawa mempunyai unggah-ungguh yang diwarisi dari zaman ke zaman. Indonesia terdiridari berbagai macam suku bangsa yang memiliki keanekaragaman multikultur (adat istiadat, tatacara bahasa, kesenian, kerajinan, ketrampilan daerah, dan lain-lain) merupakanciri khas yang memperkaya nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, keanekaragaman tersebut harus selalu dilestarikan dan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa indonesia.
II.       RUMUSAN MASALAH
a.         Apa yang dimaksud Sastra dan Sastra Jawa ?
b.         Apa yang melatarbelakangi munculnya Sastra Jawa ?
c.         Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan Sastra Jawa?
d.        Apa yang melatarbelakangi munculnya pewayangan ?
e.         Bagaimana perkembangan wayang di tanah Jawa?
III.   PEMBAHASAN
A.      Pengertian Sastra dan Sastra Jawa
a.     Pengertian sastra
Sastra merupakan istilah yang menunjuk pada suatu ilmu dengan bahasan yang luas, yaitu meliputi teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Menurut Teeuw, sastra berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu sas yang berarti ‘mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk/instruksi’, dan akhiran tra yang menunjuk pada alat, sarana, sehingga sastra berarti alat untuk mengajar, buku penunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Biasanya kata sastra diberi awalan su menjadi susastra. Su artinya baik, indah, sehingga susastra berarti pengajaran atau penunjuk yang tertuang dalam suatu tulisan yang berisi hal-hal yang baik dan indah, atau dengan kata lain, belles-letters yaitu tulisan yang indah dan sopan.
Karya sastra selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa. Menurut sejarah, sastra merupakan lukisan atau gambaran rangkaian kehidupan dan perkembangan karya sastra.[1] Karya sastra secara keseluruhan terdapat kaitan yang tidak dapat dipisahkan. Menurut Darusuprapta (1986), pertalian karya sastra satu dengan yang lainnya merupakan unsur sendi-sendi kerangka sejarah sastra. Dalam sejarah, sastra dibahas berdadasarkan periode-periode kesusastraan, aliran-aliran, jenis-jenis, dan pengarang-pengarang. Sistem penyusunan sejarah sastra tidak pernah lepas dari teori sastra dan kritik sastra. Sistem tersebut tidak bertahan lama, karena terjadi perbedaan yang berubah dengan seiring bergantinya zaman, hal itu dikarenakan sejarah sastra meiliki permasalahan yang bersifat umum dan khusus. Bersifat umum yakni yang berhubungan dengan penulisan sejarah pada umumnya, dan yang bersifat khusus adalah karakter yang melekat pada karya sastra yang memang unik, sehingga perkembangannya tidak tentu konsisten dalam berbagai hal.[2]
Sejarah sastra memiliki fungsi sebagai rekontruksi masa lalu, sebagai ilmu bantu bagi pemaknaan satra dan berfungsi sebagai catatan pengaruh karya sastra pada pembaca. Sebagian bahan dasar sastra adalah bahasa. Bahasa yang digunakan pun bukan bahasa yang sama dengan bahasa yang digunakan sehari-hari. Hal yang penting dalam bahasa sastra adalah tanda dan simbolisme suara dari kata-katanya. Sastra berfungsi untuk menghibur sekaligus memberi pengajaran terhadap manusia.
b.    Pengertian Sastra Jawa
Sastra Jawa adalah karya seni yang menggunakan Bahasa Jawa sebagai media.[3] Perbedaan yang membedakan sastra jawa dengan sastra lainnya hanya terdapat pada bahasanya saja. bahasa yang digunakan pada sastra Jawa adalah Bahasa Jawa. Sastra Jawa berdasarkan bahasa dapat dibedakan menjadi empat, yaitu Sastra Jawa Kuna, Sastra Jawa Tengahan, Sastra Jawa baru, dan Sastra Jawa Modern. Sastra Jawa berdasarkan kategori dapat dibagi tiga belas, yaitu berdasarkan sejarah, silsilah, hukum, bab wayang, sastra wayang, sastra, piwulang, islam, primbon, bahasa, musik, tari-tarian, dan adat istiadat.
B.       LATAR BELAKANG MUNCULNYA SASTRA JAWA
Karya sastra mulai muncul di era kerajaan hindu budha. Sastra pada masa ini berkembang di semua kalangan, baik di lingkungan masyarakat umum maupun di lingkungan istana. Dalam tradisi itu terbentuk kelas–kelas sosial berupa rakyat jelata dan bangsawan. Dua kaum sosial tersebut masing-masing mendukung budayanya, yaitu budaya desa dan istana.
Karya sastra yang hidup di daerah pedesaan yang tidak didukung oleh tradisi tulis menghasilkan sastra lisan.Tradisi lisan yang ada di masyarakat pedesaan luas penyebarannya karena tidak terikat penciptaan kembali oleh penyalin.Tradisi ini juga mudah diterima oleh masyarakat tanpa melibatkan kemampuan tulis-menulis, sehingga tradisi ini dapat melampau batas-batas budaya.Dengan demikian, tradisi lisan ini dapat dijadikan sumber dan rujukan bagi penulis istana. Sebaliknya karya sastra yang berkembang dikalangan istana dengan media bahasa tulis serta terikat oleh penyalin,  sehingga tidak mampu dikonsumsi masyarakat umum. Bukan hanya disebabkan oleh tradisi baca dan tulis yang tidak dikuasai rakyat, tetapi karya jenis ini milik istana dan lebih banyak diciptakan untuk kepentingan kerajaan. Menurut konsep Robert Redfield, tradisi tulis yang berkemban di istana ini disebut dengan tradisi besar atau great traditions, sedangkan tradisi yang ada dikalangan rakyat jelata sering dinamakan little traditions.
Tradisi lisan yang berkembang dalam masyarakat juga dikenal sebagai sastra rakyat. Dalam bentuk naratif, sastra rakyat juga dapat berupa pelipurlara, legenda, mitos, cerita jenaka maupun cerita binatang. Sedangkan dalam bentuk puisi, tradisi sastra berupa pantun, teka-teki, dan sebagainya. Karya sastra tersebut berkembang melalui media penyampaian secara keseluruhan melalui pengucapan lisan. Dengan demikian bentuk sastra lisan itu dapat terus berkembang dan terpelihara sesuai dengan unsur-unsur keindahan yang ada didalamnya. Hal ini sangat berbeda dengan karya sastra yang berkembang dikalangan istana sebab dikalangan istana melalui tradisi tulis, dengan demikian menyebabakan tradisi ini kurangnya ketekunan untuk menghafal dan ingatan tinggi untuk menyimpannya.
Karya sastra sejarah sering pula dikatakan sebagai genre baru dalam warisan sasatra Nusantara    tradisional. Beberapa ahli menyebutkan bahwa sastra muncul bersamaan dengan berkembangnya agama islam di Nusantara sekitar abad XIV dan XV Masehi. Meskipun pernyataan itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar, karena di jawa pada masa Hindu sudah ditulis kitab Praraton yang merupakan karya sejarah. Namun harus diakui dengan kedatangan islam di Nusantara memberikan andil besar dalam karya sastra , karena agama Islam  telah memperkenalkannya ajaranya melalui karya sastra yang menjadikan masyarakat Nusantara semangat untuk membaca khazanah keilmuan Islam. Seperti penentuan waktu di Nusantara berawal dari umat islam dengan kebiasaannya dalam menentukan waktu sholat sehari-hari selain itu juga pergeseran waktu yang ditandai dengan bulan-bulan tertentu bagi umat Islam seperti bulan Ramadhan, Dzulhijjah, Syawal.[4]

C.       PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SASTRA JAWA
Peran kerajaan Islam sangat berpengaruh dalam perkembangan sastra, misalnya dengan masuknya para pujangga Jawa yang menjabat sebagai penasehat kerajaan. Penyebaran Islam diikuti dengan mengalirnya kepustakaan Islam, baik dalam bentuk huruf Arab maupun yang telah diubah dalam bahasa Melayu. Itu semua mempengaruhi perkembangan tradisi dan budaya Jawa. Sastra Jawa yang merupakan paduan antara Hindu-Budha kemudian mendapat masukan dari unsur-unsur Islam yang melahirkan jenis kepustakaan baru, berisi tentang tradisi kejawen dengan unsur Islam sehingga sastra Jawa pun menjadi semakin indah, misalnya dengan lahirnya sastra Jawa berupa serat wirid, serat suluk, babad dan primbon. Serat wirid dan suluk berisi tentang ajaran tasawuf atau mistik dalam Islam. Babad berisi tentang cerita-cerita atau kisah dalam Islam, seperti kisah para nabi. Primbon isinya merangkum berbagai ajaran dalam tradisi Jawa, seperti ngelmu-petung, ramalan, guna-guna dan lainnya.[5]
Berdirinya kerajaan Jawa Islam Mataram dengan rajanya Sultan Agung Anyakrakusuma, semakin menyuburkan kepustakaan Islam Kejawen. Sultan Agung dalam menjalankan pemerintahannya, menjalankan politik islamisasi dengan cara mempertemukan tradisi Jawa dengan Islam. Para pujangga Jawa juga bersifat pro-aktif, menerima ajaran Islam dan mengolahnya secara Kejawen.
Setelah Sultan Agung wafat dan digantikan puteranya, perselisihan dan perpecahan pun terjadi, sehingga mengakibatkan kerajaan Mataram terpecah menjadi empat. Akibatnya rakyat menjadi sengsara dan tak berdaya menghadapi kekuasaan kompeni. Namun setelah pusat kerajaan Mataram dipindahkan dari Kartasura ke Surakarta, membuat kebangkitan rohani dan kesusastraan Jawa, yaitu dengan lahirnya pujangga-pujangga besar seperti R. Ng. Ranggawarsito Aryo Mangkunegara IV. Masa itu terkenal sebagai masa kegemilangan sastra Jawa, masa yang merupakan masa pembaharuan sastra Jawa dari bahasa Jawa kuno ke bahasa Jawa baru. Karya-karya sastra pada masa itu semuanya bernuansa mistik, misalnya karya sastra Serat Centhini (ditulis oleh Yasadipura II, Ranggasutrasna, dan R. Ng. Sastradipura) dan Serat wirid Hidaya Jati (karya R. Ng. Ranggawarsito). Pengaruh ajaran dan unsur-unsur Islam, terutama aspek tasawufnya, menimbulkan berbagai macam kitab suluk masa kebangkitan kesusastraan di Surakarta itu.
Paham Kejawen yang punya kesetaraan dengan tasawuf mistik merupakan realitas masyarakat Jawa yang memiliki akar kuat sehingga senantiasa mempunyai pengikut dan perkembangannya pun tergantung pada seberapa jauh apresiasi generasi penerus.[6]

D.      LATAR BELAKANG MUNCULNYA PEWAYANGAN
Tidak ada bukti akurat mengenai awal munculnya asal – usul dan perkembangan pewayangan di Indonesia. Hal ini dikarenakan adanya silang pendapat antara budayawan dan cendekiawan yang berusaha meneliti asal – usul perkembangan pewayangan di indonesia. Sejak jaman Indonesia masih terjajah oleh Belanda sampai sekarang hal tersebut masih dirundingkan dengan serius. Namun hal tersebut tidak membuat orang melupakan akan kehadiran wayang dalam kehidupan masyarakat. Di kalangan masyarakat Indonesia khususnya masyrakat Jawa, wayang sangat akrab di pelbagai era. Hal tersebut dikarenakan wayang merupakan salah satu buah usaha akal budi Bangsa Indonesia, sehingga menghasilkan sikap hidup manusia Jawa yang tergambar dalam cerita pewayangan sebagai hasil cipta kebudayaan dan kesenian yang luar biasa, dari penjelasan inilah wayang dianggap sebagai ensiklopedia kehidupan manusia Jawa.
Awal mula munculnya wayang di zaman dahulu digunakan untuk memuja para ruh leluhur. Setelah zaman Kerajaan Kediri dan Singasari , terutama pada zaman Sri Airlangga dan Jayabaya, ketika di saat itu penyebaran agama Hindu dari India mulai menyebar dalam kehidupan manusia Jawa. Zaman ini yang melahirkan kisah Mahabarata dan Ramayana dari negeri India. Kisah tersebut kemudian dituliskan kedalam kitab yang bertuliskan bahasa Sanskerta. Lambat laun kedua epos tersebut disalin oleh Raja Dyah Balitung untuk kitab Ramayana, dan Raja Sri Darmawangsa Teguh untuk kitab Mahabarata.
Kehidupan di dunia ini dapat dikatakan sebagai perwujudan peperangan antara kedua buah kutub yang saling bertentangan, yaitu antara kebaikan dan kejahatan, kekacauan dan ketertiban, benar dan salah, keindahan dan keburukan, dsb. Sama halnya dengan wayang, wayang diciptakan dalam berbagai lakon cerita yang mengandung pertentangan dalam diri manusia . dalam pertunjukan lazimnya, wayang dibawakan dan disampaikan oleh seorang dalang sebagai pelaku cerita tersebut secara dialog dan gerak perbuatan yang menghidupkan tokoh wayang dan jalan cerita.[7]

E.       PERKEMBANGAN WAYANG DI TANAH JAWA
Di Indonesia wayang terdapat banyak model, namun untuk wilayah Jawa yang terkenal adalah wayang kulit purwa. Eksistensi wayang kulit purwa saat ini masih digemari oleh sebagian masyarakat Jawa. Hal tersebut dapat dilihat dari perbandingan jumlah peminat yang menikmati pertunjukan wayang dibanding dengan jenis kesenian yang lainnya. Di samping itu yang menjadi daya tarik pewayangan adalah keragaman ceritanya yang banyak. Cerita yang ada di dalam pewayangan dapat menyatukan masyarakat secara menyeluruh. Penyatuan itu meliputi seluruh daerah geografi Jawa dan semua golongan sosial masyarakat Jawa.
Keberadaan wayang kulit purwa menurut buku Serat Centini dan Sastramiruda sudah ada sejak zaman Prabu Jayabaya ( pemimpin Kerajaan Mamenang, tahun 989M), dimana pada zaman itu wayang digambarkan di atas daun lontar. Pada masa ini wayang berkaitan sangat erat dengan unsur religius, dimana wayang digunakan sebagai media untuk menyembah para leluhur yang sudah meninggal.
Selanjutnya, ada perubahan fisik yang terjadi pada wayang kulit purwa. Hal ini terjadi pada pemerintahan Prabu Suryamiluhur ( pemimpin Kerajaan Jenggala, tahun 1244M ). Perubahan ini terlihat pada media pembuatan wayang dan kreasi pada wayang, media yang digunakan adalah kertas jawa (kulit kayu) dan kreasi pada wayang terdapat penjepit pada sisi – sisi yang terbuat dari kayu, semua itu dilakukan agar dapat tergulung rapi.
Perkembangan selanjutnya pada masa Raja Brawijaya (pemerintah Kerajaan Majapahit, tahun 1379M). Pada masa ini terjadi perubahan derastis pada wayang kulit purwa. Pembuatan wayang kulit purwa terlihat lebih rapi dengan adanya kreasi seni lukis dengan berbagai warna dan ada tambahan sehelai pakaian, yang akhirnya wayang ini berubah nama menjadi wayang  sunggingan. Selanjutnya perkembangan wayang lebih disempurnakan oleh Raden Patah ( pemimpin daerah Jawa, Demak tahun 1515M) untuk alat pembantu penyebaran agama Islam.
Wayang yang awalnya digunakan sebagai barang yang diskralkan dalam ritual beribadah untuk menghormati leluhur pada masa kejayaan Hindu – Budha, perlahan beralih fungsi menjadi media dakwah ketika Islam mulai berjaya. Dakwah menggunakan wayang sering dilakukan oleh para wali yang ada di tanah Jawa dalam penyebaran agama Islam. Perombakan mulai terjadi, para wali berlomba – lomba membuat cerita dan lakon-lakon baru yang sesuai dengan falsafah ajaran Islam, alat-alat gamelan baru sebagai pengiring pergelaran wayang, dan hiasan-hiasan lainnya agar pertunjukan menjadi semakin menarik perhatian masyarakat, sehingga perlahan masyarakat menerima ajaran Islam sebagai agama baru mereka. Agar terlihat sempurna dalam penyampaian dakwah, tekstur wayang purwa dirubah pada tahun 1520. Wayang dibuat lebih pipih dalam bentuk miring sehingga tidak menyerupai wayang yang telah ada pada zaman Hindu-Budha.[8] Bahan yang digunakan dalam pembuatan wayang ada perbedaan dengan sebelumnya. Pada zaman ini wayang terbuat dari kulit Kerbau yang dihaluskan dan ditatah kemudian diberi gapit ditegahnya sebagai pegangan sang dalang, dan agar mudah ditancapkan di pelepah pisang. Perombakan itu tidak terjadi secara frontal, ada unsur kesamaan pada wayang tersebut. Tangan masih bersatu dalam tubuh wayang dan pola gambarnya masih diambil dari wayang beber zaman Majapahit.
Berjalannya waktu, penyempurnaan semakin digencarkan. Tokoh yang memperkasai adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Sunan Giri menciptakan wayang-wayang jenis raksasa, sedangkan Raden Patah menciptakan gunungan (kayon) sebagai pembuka cerita, perubahan adegan cerita, dan penutup cerita wayang. Perkembangan mulai terasa cepat, banyaknya tokoh baru yang bermunculan membuat wayang semakin terkenal dikalangan masyarakat.
Pada masa kerajaan Mataram, bentuk wayang purwa semakin bertambah dengan adanya bentuk burung, gajah, dan tatahan wayang yang semakin halus. Penyempurnaan tidak hanya terjadi pada hal itu saja, namun ada perubahan dalam bentuk karakter tokoh wayang tertentu dalam suatu kondisi dan keadaan tertentu, atau yang sering disebut sebagai wanda.
Wayang kulit purwa mendapat tambahan aksen berbeda pada mata di setiap tokohnya. Penambahan ini dilakukan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma (1563). Perubahan pada mata ini ditujukan agar dapat membedakan sifat dan karakter para tokoh dalam pewayangan. Jenis mata dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu liyepan, thelengan, dondongan, dsb. Perubahan tidak berhenti sampai sini saja, namun setelah era ini masih terjadi perubahan dalam wayang. Tahun 1680, Raja Amangkurat (pemimpin Mataram) melakukan penambahan pada tokoh wayang baru yang dikenal oleh nama Punakawan. Hingga pada massa Mangkunegara (1850-1860), wayang telah diakui sebagai milik masyarakat Jawa dan telah menyebar keseluruh tanah Jawa. Keberadaan wayang kulit purwa yang sarat dengan nilai hidup untuk membangun perwatakan manusia jawa, khususnya agar menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan budaya Jawa.[9]
Cerita wayang kulit purwa bersumber pada wiracarita (buku induk) atau babon dari kitab Mahabharatan dan Ramayan dari negeri India. Tidak hanya bentuk dan karakter tokoh yang berubah namun ceritanyapun ikut berubah. Secara garis besar, muncul tiga jenis cerita wayang, yakni sebagai berikut :[10]
a.     Cerita baku, cerita yang asli dari kitab Mahabharata dan Ramayanga tanpa mentimpang dari asalnya.
b.    Cerita carangan kadapur, cerita baku dari buku induk yang telah dikembangkan oleh kreativitas sang dalang.
c.     Cerita carangan, cerita baru yang dikembangkan oleh kreativitas dalang dengan tidak melenceng dari alur cerita baku, sehingga cerita tersebut tidak terdapat dalam buku induk.
Pada dasarnya, pakem standar cerita wayang purwa dari buku panduan pedalangan memuat empat siklus utama, yaitu cerita dewa-dewa (kadewan) dalam kisah lakon purwa carita, siklus Arjuna Sasrabahu dalam kisah Lokapala, siklus Ramayana dalam kisah Rama, dan siklus Mahabharata dalam lakon pandawa hingga perang Bhataryuda. Lakon dalam istilah pedhalangan dikenal dalam tiga jenis, yaitu lakon baku, lakon sempalan, dan lakon carangan. Menurut kriteria pergeleran lakon dibagi menjadi delapan, yaitu lakon raben atau alap-alapan, lakon lahir, lakon kraman, lakon wahyu, lakon mistik, lakon tragedi, lakon ruwat, dan lakon jumenengan.dapat sisimpulkan bahwa kriteria cerita merupakan sumber lakon sebagai pedoman pelaksanaan teknik wayang yang akan disajikan.
Menurut Prof.K.M.A Machfoel tentang makna pewayangan, yakni Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Keempat figur nama-namanya sama sekali tidak terdapat dalam epos Hindu Ramayana dan Mahabrata sebagai sumber pewayangan aslinya. Munculnya figur punakawan tersebut merupakan hasil kreasi Wali Sang Walet tinelon untuk meragakan serta mengabdikan fungsi watak, tugas konsepsional Walisongo dan para mubaligh islam, sedangkan nama-namanya merupakan sebutan bahasa kuno, tetapi berasal dari bahasa arab sebagaimana nama Semar diambil dari bahasa arab yaitu Ismar yang artinya paku, berfungsi sebagai goyah. Ibarat ajaran islam yang didakwahkan para walisongo diseluruh kerajaan majapahit, yang pada waktu itu sedang dalam pergolakan dengan berakhirnya didirikan kerajaan Demak oleh raden patah. Hal senada sesuai dengan hadits Al-Islamu ismaruddunnya yang berarti islam adalah pengokoh (pku pengokoh) keselamatan dunia. Naala Qoriin oleh pengucapan lidah jawa menjadi Nala Gareng yang berarti memperoleh banyak teman, dan tugas konsepsional para walisongo sebagai juru dakwah (dai) ialah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya kawan untuk kembali ke jalan Tuhan dengan sikap arif dan harapan yang baik. Fatruk oleh pengucapan lidah jawa menjadi Petruk. Kata tersebut merupakan kata pangkal kalimat pendek dari sebuah wejangan tasawuf tinggi yang berbunyi: Fatruk kulla maa siwallahi, yang artinya tinggalkan semua apapun yang selain Allah. Wejangan tersebut kemudian menjadi watak pribadi para wali dan mubaligh pada waktu itu. Baghaa oleh pengucapan lidah jawa menjadi Bagong, yang berarti berontak terhadap kebathilan atau kemungkaran suatu tindakan antu kesalahan. Dalam versi lain berasal dari kata Baqa’ (arab) yang berarti kekal, langgeng, artinya semua makhluk nantinya di akhirat mengalami hidup kekal.
     Wayang sebagai titik temu nilai budaya Jawa dan Islam adalah suatu momentum yang sangat berharga bagi perkembangan khasanah budaya Jawa. Sebagaiman kalimat Syahadat merupakan kalimat persaksian yang semula dijadikan Jimat (siji dirumat) kekuatan spiritual yang kemudian ditradisikan dalam sekatenan. Kalimat Syahadatain, yakni Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul kemudian ditradisikan dan disosialisasikan dalam kegiatan grebeg maulud atau grebeg sekatenan yang diselenggarakan mulai tanggal 1 sampai dengan 12 Maulud, setiap tahunnya.[11]

IV.        KESIMPULAN
Sastra merupakan istilah yang menunjuk pada suatu ilmu dengan bahasan yang luas, yaitu meliputi teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Karya sastra secara keseluruhan terdapat kaitan yang tidak dapat dipisahkan. Sejarah sastra memiliki fungsi sebagai rekontruksi masa lalu, sebagai ilmu bantu bagi pemaknaan satra dan berfungsi sebagai catatan pengaruh karya sastra pada pembaca. Sebagian bahan dasar sastra adalah bahasa.
Sastra Jawa adalah karya seni yang menggunakan Bahasa Jawa sebagai media. Perbedaan yang membedakan sastra jawa dengan sastra lainnya hanya terdapat pada bahasanya saja. bahasa yang digunakan pada sastra Jawa adalah Bahasa Jawa. Sastra Jawa yang merupakan paduan antara Hindu-Budha kemudian mendapat masukan dari unsur-unsur Islam yang melahirkan jenis kepustakaan baru, berisi tentang tradisi kejawen dengan unsur Islam sehingga sastra Jawa pun menjadi semakin indah.
Awal mula munculnya wayang di zaman dahulu digunakan untuk memuja para ruh leluhur. Setelah zaman Kerajaan Kediri dan Singasari , terutama pada zaman Sri Airlangga dan Jayabaya, ketika di saat itu penyebaran agama Hindu dari India mulai menyebar dalam kehidupan manusia Jawa. Zaman ini yang melahirkan kisah Mahabarata dan Ramayana dari negeri India. Di Indonesia wayang terdapat banyak model, namun untuk wilayah Jawa yang terkenal adalah wayang kulit purwa. Wayang juga sebagai titik temu nilai budaya Jawa dan Islam.
Keberadaan wayang kulit purwa menurut buku Serat Centini dan Sastramiruda sudah ada sejak zaman Prabu Jayabaya ( pemimpin Kerajaan Mamenang, tahun 989M).
V.      PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat, semoga dapat menambah wacana dan pengetahuan kita tentang  penelitian sanad dan matan hadis. Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih memerlukan penyempurnaan. Oleh karenanya, kritik dan saran yang membangun dari semua pihak kami harapkan untuk menyempurnakan makalah ini. Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua, amin.










DAFTAR KEPUSTAKAAN


Harsi, Maharsi, Islam Melayu VS Jawa Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
Jamil, Abdul, dkk, Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: GAMA MEDIA, 2000.
Khalim, Samidi, Islam & Spiritualitas Jawa, Semarang: RaSAIL, 2008.
Kresna Ardian, Mengenal Wayang, Jogjakarta: laksana, 2012





















BIODATA SINGKAT PEMAKALAH

NAMA                        : MASLIKHATUL UMMAH
NIM                            : 113511050
JURUSAN/PRODI    : TADRIS/TADRIS MATEMATIKA
TTL                             : SEMARANG, 3 AGUSUTUS 1992
PENDIDIKAN          :
-          SD             : SDN BATURSARI V
-          SMP          : SMPN 9 SEMARANG
-          SMA         : SMA ISLAM SULTAN AGUNG 1
-          S1              : IAIN WALISONGO SEMARANG
ALAMAT                   : PUCANG JAJAR TIMUR NO 23, PERUMNAS
  PUCANG GADING
NOMOR TELEPON  : 081228430013
EMAIL                       : ika_ssi.moslem@yahoo.com

NAMA                        : KHOIRUL MILLATI
NIM                            : 113511071
JURUSAN/PRODI    : TADRIS/TADRIS MATEMATIKA
TTL                             : BATANG, 25 AGUSTUS 1993
PENDIDIKAN          :
-          SD             : MI THOLABUDDIN
-          SMP          : MTs THOLABUDDIN
-          SMA         : MA DARUL AMANAH KENDAL
-          S1              : IAIN WALISONGO SEMARANG
ALAMAT                   : Ds MASIN, KECAMATAN WARUNG ASEM,
  KABUPATEN BATANG
NOMOR TELEPON  : 085720520670
EMAIL                       : min_alfikaromah@yahoo.com


NAMA                        : SYLVIA NOER ANGGRAENI
NIM                            : 123511075
JURUSAN/PRODI    : TADRIS/TADRIS MATEMATIKA
TTL                             : GROBOGAN, 20 DESEMBER 1994
PENDIDIKAN          :
-          SD             : SDN 1 KARANGANYAR
-          SMP          : SMPN 1 PURWODADI
-          SMA         : SMAN 1 PURWODADI
-          S1              : IAIN WALISONGO SEMARANG
ALAMAT                   : Ds. KARANGANYAR RT: 01/RW:01, PURWODADI,
  GROBOGAN
NOMOR TELEPON  : 085740056628
EMAIL                       :




[4] Maharsi Harsi, Islam Melayu VS Jawa Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, hlm.1.
[5] Samidi Khalim, Islam & Spiritualitas Jawa, Semarang: RaSAIL, 2008, hlm.65.
[6] H. Abdul Jamil, dkk, Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: GAMA MEDIA, 2000, hlm. 170.
[7] Ardian kresna, Mengenal Wayang, Jogjakarta: laksana, 2012, hlm 20.
[8] Ardian kresna, Mengenal Wayang, Jogjakarta: laksana, 2012, hlm.34.
[9] Ardian kresna, Mengenal Wayang, Jogjakarta: laksana, 2012, hlm.23.
[10] Ardian kresna, Mengenal Wayang, Jogjakarta: laksana, 2012, hlm.36.
[11] H. Abdul Jamil, dkk, Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: GAMA MEDIA, 2000, hlm. 179.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Entri Populer