Rabu, 08 Mei 2013

Sastra dan Satra Jawa

A.      Pengertian Sastra dan Sastra Jawa
a.     Pengertian sastra
Sastra merupakan istilah yang menunjuk pada suatu ilmu dengan bahasan yang luas, yaitu meliputi teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Menurut Teeuw, sastra berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu sas yang berarti ‘mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk/instruksi’, dan akhiran tra yang menunjuk pada alat, sarana, sehingga sastra berarti alat untuk mengajar, buku penunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Biasanya kata sastra diberi awalan su menjadi susastra. Su artinya baik, indah, sehingga susastra berarti pengajaran atau penunjuk yang tertuang dalam suatu tulisan yang berisi hal-hal yang baik dan indah, atau dengan kata lain, belles-letters yaitu tulisan yang indah dan sopan.
Karya sastra selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa. Menurut sejarah, sastra merupakan lukisan atau gambaran rangkaian kehidupan dan perkembangan karya sastra.[1] Karya sastra secara keseluruhan terdapat kaitan yang tidak dapat dipisahkan. Menurut Darusuprapta (1986), pertalian karya sastra satu dengan yang lainnya merupakan unsur sendi-sendi kerangka sejarah sastra. Dalam sejarah, sastra dibahas berdadasarkan periode-periode kesusastraan, aliran-aliran, jenis-jenis, dan pengarang-pengarang. Sistem penyusunan sejarah sastra tidak pernah lepas dari teori sastra dan kritik sastra. Sistem tersebut tidak bertahan lama, karena terjadi perbedaan yang berubah dengan seiring bergantinya zaman, hal itu dikarenakan sejarah sastra meiliki permasalahan yang bersifat umum dan khusus. Bersifat umum yakni yang berhubungan dengan penulisan sejarah pada umumnya, dan yang bersifat khusus adalah karakter yang melekat pada karya sastra yang memang unik, sehingga perkembangannya tidak tentu konsisten dalam berbagai hal.[2]
Sejarah sastra memiliki fungsi sebagai rekontruksi masa lalu, sebagai ilmu bantu bagi pemaknaan satra dan berfungsi sebagai catatan pengaruh karya sastra pada pembaca. Sebagian bahan dasar sastra adalah bahasa. Bahasa yang digunakan pun bukan bahasa yang sama dengan bahasa yang digunakan sehari-hari. Hal yang penting dalam bahasa sastra adalah tanda dan simbolisme suara dari kata-katanya. Sastra berfungsi untuk menghibur sekaligus memberi pengajaran terhadap manusia.
b.    Pengertian Sastra Jawa
Sastra Jawa adalah karya seni yang menggunakan Bahasa Jawa sebagai media.[3] Perbedaan yang membedakan sastra jawa dengan sastra lainnya hanya terdapat pada bahasanya saja. bahasa yang digunakan pada sastra Jawa adalah Bahasa Jawa. Sastra Jawa berdasarkan bahasa dapat dibedakan menjadi empat, yaitu Sastra Jawa Kuna, Sastra Jawa Tengahan, Sastra Jawa baru, dan Sastra Jawa Modern. Sastra Jawa berdasarkan kategori dapat dibagi tiga belas, yaitu berdasarkan sejarah, silsilah, hukum, bab wayang, sastra wayang, sastra, piwulang, islam, primbon, bahasa, musik, tari-tarian, dan adat istiadat.
B.       LATAR BELAKANG MUNCULNYA SASTRA JAWA
Karya sastra mulai muncul di era kerajaan hindu budha. Sastra pada masa ini berkembang di semua kalangan, baik di lingkungan masyarakat umum maupun di lingkungan istana. Dalam tradisi itu terbentuk kelas–kelas sosial berupa rakyat jelata dan bangsawan. Dua kaum sosial tersebut masing-masing mendukung budayanya, yaitu budaya desa dan istana.
Karya sastra yang hidup di daerah pedesaan yang tidak didukung oleh tradisi tulis menghasilkan sastra lisan.Tradisi lisan yang ada di masyarakat pedesaan luas penyebarannya karena tidak terikat penciptaan kembali oleh penyalin.Tradisi ini juga mudah diterima oleh masyarakat tanpa melibatkan kemampuan tulis-menulis, sehingga tradisi ini dapat melampau batas-batas budaya.Dengan demikian, tradisi lisan ini dapat dijadikan sumber dan rujukan bagi penulis istana. Sebaliknya karya sastra yang berkembang dikalangan istana dengan media bahasa tulis serta terikat oleh penyalin,  sehingga tidak mampu dikonsumsi masyarakat umum. Bukan hanya disebabkan oleh tradisi baca dan tulis yang tidak dikuasai rakyat, tetapi karya jenis ini milik istana dan lebih banyak diciptakan untuk kepentingan kerajaan. Menurut konsep Robert Redfield, tradisi tulis yang berkemban di istana ini disebut dengan tradisi besar atau great traditions, sedangkan tradisi yang ada dikalangan rakyat jelata sering dinamakan little traditions.
Tradisi lisan yang berkembang dalam masyarakat juga dikenal sebagai sastra rakyat. Dalam bentuk naratif, sastra rakyat juga dapat berupa pelipurlara, legenda, mitos, cerita jenaka maupun cerita binatang. Sedangkan dalam bentuk puisi, tradisi sastra berupa pantun, teka-teki, dan sebagainya. Karya sastra tersebut berkembang melalui media penyampaian secara keseluruhan melalui pengucapan lisan. Dengan demikian bentuk sastra lisan itu dapat terus berkembang dan terpelihara sesuai dengan unsur-unsur keindahan yang ada didalamnya. Hal ini sangat berbeda dengan karya sastra yang berkembang dikalangan istana sebab dikalangan istana melalui tradisi tulis, dengan demikian menyebabakan tradisi ini kurangnya ketekunan untuk menghafal dan ingatan tinggi untuk menyimpannya.
Karya sastra sejarah sering pula dikatakan sebagai genre baru dalam warisan sasatra Nusantara    tradisional. Beberapa ahli menyebutkan bahwa sastra muncul bersamaan dengan berkembangnya agama islam di Nusantara sekitar abad XIV dan XV Masehi. Meskipun pernyataan itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar, karena di jawa pada masa Hindu sudah ditulis kitab Praraton yang merupakan karya sejarah. Namun harus diakui dengan kedatangan islam di Nusantara memberikan andil besar dalam karya sastra , karena agama Islam  telah memperkenalkannya ajaranya melalui karya sastra yang menjadikan masyarakat Nusantara semangat untuk membaca khazanah keilmuan Islam. Seperti penentuan waktu di Nusantara berawal dari umat islam dengan kebiasaannya dalam menentukan waktu sholat sehari-hari selain itu juga pergeseran waktu yang ditandai dengan bulan-bulan tertentu bagi umat Islam seperti bulan Ramadhan, Dzulhijjah, Syawal.[4]

C.       PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SASTRA JAWA
Peran kerajaan Islam sangat berpengaruh dalam perkembangan sastra, misalnya dengan masuknya para pujangga Jawa yang menjabat sebagai penasehat kerajaan. Penyebaran Islam diikuti dengan mengalirnya kepustakaan Islam, baik dalam bentuk huruf Arab maupun yang telah diubah dalam bahasa Melayu. Itu semua mempengaruhi perkembangan tradisi dan budaya Jawa. Sastra Jawa yang merupakan paduan antara Hindu-Budha kemudian mendapat masukan dari unsur-unsur Islam yang melahirkan jenis kepustakaan baru, berisi tentang tradisi kejawen dengan unsur Islam sehingga sastra Jawa pun menjadi semakin indah, misalnya dengan lahirnya sastra Jawa berupa serat wirid, serat suluk, babad dan primbon. Serat wirid dan suluk berisi tentang ajaran tasawuf atau mistik dalam Islam. Babad berisi tentang cerita-cerita atau kisah dalam Islam, seperti kisah para nabi. Primbon isinya merangkum berbagai ajaran dalam tradisi Jawa, seperti ngelmu-petung, ramalan, guna-guna dan lainnya.[5]
Berdirinya kerajaan Jawa Islam Mataram dengan rajanya Sultan Agung Anyakrakusuma, semakin menyuburkan kepustakaan Islam Kejawen. Sultan Agung dalam menjalankan pemerintahannya, menjalankan politik islamisasi dengan cara mempertemukan tradisi Jawa dengan Islam. Para pujangga Jawa juga bersifat pro-aktif, menerima ajaran Islam dan mengolahnya secara Kejawen.
Setelah Sultan Agung wafat dan digantikan puteranya, perselisihan dan perpecahan pun terjadi, sehingga mengakibatkan kerajaan Mataram terpecah menjadi empat. Akibatnya rakyat menjadi sengsara dan tak berdaya menghadapi kekuasaan kompeni. Namun setelah pusat kerajaan Mataram dipindahkan dari Kartasura ke Surakarta, membuat kebangkitan rohani dan kesusastraan Jawa, yaitu dengan lahirnya pujangga-pujangga besar seperti R. Ng. Ranggawarsito Aryo Mangkunegara IV. Masa itu terkenal sebagai masa kegemilangan sastra Jawa, masa yang merupakan masa pembaharuan sastra Jawa dari bahasa Jawa kuno ke bahasa Jawa baru. Karya-karya sastra pada masa itu semuanya bernuansa mistik, misalnya karya sastra Serat Centhini (ditulis oleh Yasadipura II, Ranggasutrasna, dan R. Ng. Sastradipura) dan Serat wirid Hidaya Jati (karya R. Ng. Ranggawarsito). Pengaruh ajaran dan unsur-unsur Islam, terutama aspek tasawufnya, menimbulkan berbagai macam kitab suluk masa kebangkitan kesusastraan di Surakarta itu.
Paham Kejawen yang punya kesetaraan dengan tasawuf mistik merupakan realitas masyarakat Jawa yang memiliki akar kuat sehingga senantiasa mempunyai pengikut dan perkembangannya pun tergantung pada seberapa jauh apresiasi generasi penerus.[6]


[4] Maharsi Harsi, Islam Melayu VS Jawa Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, hlm.1.
[5] Samidi Khalim, Islam & Spiritualitas Jawa, Semarang: RaSAIL, 2008, hlm.65.
[6] H. Abdul Jamil, dkk, Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: GAMA MEDIA, 2000, hlm. 170.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Entri Populer