A.
Pengertian
Sastra dan Sastra Jawa
a.
Pengertian
sastra
Sastra
merupakan istilah yang menunjuk pada suatu ilmu dengan bahasan yang luas, yaitu
meliputi teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Menurut Teeuw, sastra
berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu sas yang berarti ‘mengarahkan,
mengajar, memberi petunjuk/instruksi’, dan akhiran tra yang menunjuk
pada alat, sarana, sehingga sastra berarti alat untuk mengajar, buku penunjuk,
buku instruksi atau pengajaran. Biasanya kata sastra diberi awalan su menjadi
susastra. Su artinya baik, indah, sehingga susastra berarti pengajaran
atau penunjuk yang tertuang dalam suatu tulisan yang berisi hal-hal yang baik
dan indah, atau dengan kata lain, belles-letters yaitu tulisan yang
indah dan sopan.
Karya sastra selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa.
Menurut sejarah, sastra merupakan lukisan atau gambaran rangkaian kehidupan dan
perkembangan karya sastra.[1]
Karya sastra secara keseluruhan terdapat kaitan yang tidak dapat dipisahkan.
Menurut Darusuprapta (1986), pertalian karya sastra satu dengan yang lainnya
merupakan unsur sendi-sendi kerangka sejarah sastra. Dalam sejarah, sastra
dibahas berdadasarkan periode-periode kesusastraan, aliran-aliran, jenis-jenis,
dan pengarang-pengarang. Sistem penyusunan sejarah sastra tidak pernah lepas
dari teori sastra dan kritik sastra. Sistem tersebut tidak bertahan lama,
karena terjadi perbedaan yang berubah dengan seiring bergantinya zaman, hal itu
dikarenakan sejarah sastra meiliki permasalahan yang bersifat umum dan khusus.
Bersifat umum yakni yang berhubungan dengan penulisan sejarah pada umumnya, dan
yang bersifat khusus adalah karakter yang melekat pada karya sastra yang memang
unik, sehingga perkembangannya tidak tentu konsisten dalam berbagai hal.[2]
Sejarah sastra memiliki fungsi sebagai rekontruksi masa lalu,
sebagai ilmu bantu bagi pemaknaan satra dan berfungsi sebagai catatan pengaruh
karya sastra pada pembaca. Sebagian bahan dasar sastra adalah bahasa. Bahasa
yang digunakan pun bukan bahasa yang sama dengan bahasa yang digunakan
sehari-hari. Hal yang penting dalam bahasa sastra adalah tanda dan simbolisme
suara dari kata-katanya. Sastra berfungsi untuk menghibur sekaligus memberi
pengajaran terhadap manusia.
b.
Pengertian
Sastra Jawa
Sastra Jawa adalah karya seni yang menggunakan Bahasa Jawa sebagai
media.[3]
Perbedaan yang membedakan sastra jawa dengan sastra lainnya hanya terdapat pada
bahasanya saja. bahasa yang digunakan pada sastra Jawa adalah Bahasa Jawa.
Sastra Jawa berdasarkan bahasa dapat dibedakan menjadi empat, yaitu Sastra Jawa
Kuna, Sastra Jawa Tengahan, Sastra Jawa baru, dan Sastra Jawa Modern. Sastra
Jawa berdasarkan kategori dapat dibagi tiga belas, yaitu berdasarkan sejarah,
silsilah, hukum, bab wayang, sastra wayang, sastra, piwulang, islam, primbon,
bahasa, musik, tari-tarian, dan adat istiadat.
B.
LATAR
BELAKANG MUNCULNYA SASTRA JAWA
Karya sastra mulai muncul di era kerajaan hindu budha. Sastra pada
masa ini berkembang di semua kalangan, baik di lingkungan masyarakat umum
maupun di lingkungan istana. Dalam tradisi itu terbentuk kelas–kelas sosial
berupa rakyat jelata dan bangsawan. Dua kaum sosial tersebut masing-masing
mendukung budayanya, yaitu budaya desa dan istana.
Karya sastra yang hidup di daerah pedesaan yang tidak didukung oleh
tradisi tulis menghasilkan sastra lisan.Tradisi lisan yang ada di masyarakat
pedesaan luas penyebarannya karena tidak terikat penciptaan kembali oleh
penyalin.Tradisi ini juga mudah diterima oleh masyarakat tanpa melibatkan
kemampuan tulis-menulis, sehingga tradisi ini dapat melampau batas-batas
budaya.Dengan demikian, tradisi lisan ini dapat dijadikan sumber dan rujukan bagi
penulis istana. Sebaliknya karya sastra yang berkembang dikalangan istana dengan
media bahasa tulis serta terikat oleh penyalin, sehingga tidak mampu dikonsumsi masyarakat umum.
Bukan hanya disebabkan oleh tradisi baca dan tulis yang tidak dikuasai rakyat,
tetapi karya jenis ini milik istana dan lebih banyak diciptakan untuk kepentingan
kerajaan. Menurut konsep Robert Redfield, tradisi tulis yang berkemban di
istana ini disebut dengan tradisi besar atau great traditions, sedangkan tradisi yang ada dikalangan rakyat jelata
sering dinamakan little traditions.
Tradisi lisan yang berkembang dalam masyarakat juga dikenal sebagai
sastra rakyat. Dalam bentuk naratif, sastra rakyat juga dapat berupa pelipurlara,
legenda, mitos, cerita jenaka maupun cerita binatang. Sedangkan dalam bentuk puisi,
tradisi sastra berupa pantun, teka-teki, dan sebagainya. Karya sastra tersebut berkembang
melalui media penyampaian secara keseluruhan melalui pengucapan lisan. Dengan demikian
bentuk sastra lisan itu dapat terus berkembang dan terpelihara sesuai dengan unsur-unsur
keindahan yang ada didalamnya. Hal ini sangat berbeda dengan karya sastra yang
berkembang dikalangan istana sebab dikalangan istana melalui tradisi tulis,
dengan demikian menyebabakan tradisi ini kurangnya ketekunan untuk menghafal dan
ingatan tinggi untuk menyimpannya.
Karya sastra sejarah sering pula dikatakan sebagai genre baru dalam
warisan sasatra Nusantara tradisional. Beberapa ahli menyebutkan bahwa sastra
muncul bersamaan dengan berkembangnya agama islam di Nusantara sekitar abad XIV
dan XV Masehi. Meskipun pernyataan itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar,
karena di jawa pada masa Hindu sudah ditulis kitab Praraton yang merupakan karya
sejarah. Namun harus diakui dengan kedatangan islam di Nusantara memberikan andil
besar dalam karya sastra , karena agama Islam telah memperkenalkannya ajaranya melalui karya
sastra yang menjadikan masyarakat Nusantara semangat untuk membaca khazanah keilmuan
Islam. Seperti penentuan waktu di Nusantara berawal dari umat islam dengan kebiasaannya
dalam menentukan waktu sholat sehari-hari selain itu juga pergeseran waktu yang
ditandai dengan bulan-bulan tertentu bagi umat Islam seperti bulan Ramadhan,
Dzulhijjah, Syawal.[4]
C.
PERTUMBUHAN
DAN PERKEMBANGAN SASTRA JAWA
Peran kerajaan Islam sangat berpengaruh dalam perkembangan sastra,
misalnya dengan masuknya para pujangga Jawa yang menjabat sebagai penasehat
kerajaan. Penyebaran Islam diikuti dengan mengalirnya kepustakaan Islam, baik
dalam bentuk huruf Arab maupun yang telah diubah dalam bahasa Melayu. Itu semua
mempengaruhi perkembangan tradisi dan budaya Jawa. Sastra Jawa yang merupakan
paduan antara Hindu-Budha kemudian mendapat masukan dari unsur-unsur Islam yang
melahirkan jenis kepustakaan baru, berisi tentang tradisi kejawen dengan unsur
Islam sehingga sastra Jawa pun menjadi semakin indah, misalnya dengan lahirnya
sastra Jawa berupa serat wirid, serat suluk, babad dan primbon. Serat wirid dan
suluk berisi tentang ajaran tasawuf atau mistik dalam Islam. Babad berisi
tentang cerita-cerita atau kisah dalam Islam, seperti kisah para nabi. Primbon
isinya merangkum berbagai ajaran dalam tradisi Jawa, seperti ngelmu-petung,
ramalan, guna-guna dan lainnya.[5]
Berdirinya kerajaan Jawa Islam Mataram dengan rajanya Sultan Agung
Anyakrakusuma, semakin menyuburkan kepustakaan Islam Kejawen. Sultan Agung
dalam menjalankan pemerintahannya, menjalankan politik islamisasi dengan cara
mempertemukan tradisi Jawa dengan Islam. Para pujangga Jawa juga bersifat
pro-aktif, menerima ajaran Islam dan mengolahnya secara Kejawen.
Setelah Sultan Agung wafat dan digantikan puteranya, perselisihan
dan perpecahan pun terjadi, sehingga mengakibatkan kerajaan Mataram terpecah
menjadi empat. Akibatnya rakyat menjadi sengsara dan tak berdaya menghadapi
kekuasaan kompeni. Namun setelah pusat kerajaan Mataram dipindahkan dari
Kartasura ke Surakarta, membuat kebangkitan rohani dan kesusastraan Jawa, yaitu
dengan lahirnya pujangga-pujangga besar seperti R. Ng. Ranggawarsito Aryo
Mangkunegara IV. Masa itu terkenal sebagai masa kegemilangan sastra Jawa, masa
yang merupakan masa pembaharuan sastra Jawa dari bahasa Jawa kuno ke bahasa
Jawa baru. Karya-karya sastra pada masa itu semuanya bernuansa mistik, misalnya
karya sastra Serat Centhini (ditulis
oleh Yasadipura II, Ranggasutrasna, dan R. Ng. Sastradipura) dan Serat wirid Hidaya Jati (karya R. Ng.
Ranggawarsito). Pengaruh ajaran dan unsur-unsur Islam, terutama aspek
tasawufnya, menimbulkan berbagai macam kitab suluk masa kebangkitan
kesusastraan di Surakarta itu.
Paham Kejawen yang punya kesetaraan dengan tasawuf mistik merupakan
realitas masyarakat Jawa yang memiliki akar kuat sehingga senantiasa mempunyai
pengikut dan perkembangannya pun tergantung pada seberapa jauh apresiasi
generasi penerus.[6]
[1] http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/DIKT%20SEJARAH%20SAS%20JAWA.pdf, 02/04/13 pukul 22:32
[2]
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/DIKT%20SEJARAH%20SAS%20JAWA.pdf, 02/04/13 pukul 22:32
[4] Maharsi Harsi, Islam Melayu VS Jawa Islam,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, hlm.1.
[5] Samidi Khalim, Islam
& Spiritualitas Jawa, Semarang: RaSAIL, 2008, hlm.65.
[6] H. Abdul Jamil, dkk, Islam
dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: GAMA MEDIA, 2000, hlm. 170.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar