Kamis, 19 April 2012

Psikologi Belajar


     A.       Teori Belajar
Para psikologi pendidikan memunculkan istilah teori belajar setelah mereka mengalami kesulitan ketika akan menjelaskan proses belajar secara menyeluruh. Dari kesulitan tersebut munculah beberapa presepsi berbeda dari para psikolog, sehingga menghasilkan dalil – dalil yang memiliki inti kalau teori belajar adalah alat bantu yang sistematis dalam proses belajar.[1]
Teori – teori belajar dikalangan psikolog bersifat eksperimental, dimana teori yang mereka kemukakan hanyalah berupa pendapat dari pengalaman mereka ketika dalam kegiatan belajar berlangsung. Dari interaksi tersebut, para psikolog menyusun proposisi yang mereka tekuni sehingga menghasilkan mahzab yang mereka ciptakan itu bisa digunakan sebagai landasan pola pikir mereka. Dapat disimpulkan kalau, teori adalah pendapat.[2]

B.     Macam – Macam Teori Belajar
1.      Teori Throndike ( Koneksionisme Bond Psychology )
     Pada teori Throndike dijelaskan bahwa belajar memiliki sifat trial and error.[3] Dan yang menjadi dasar belajar adalah adanya pembentukan antara stimulus dan respons. Sehingga dapat disimpulkan pengertian belajar dalam teori ini, adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons.

2.      Teori Pavlonisme ( Classical Conditioning )
     Pada teori Pavlonisme dijelaskan kalau teori ini biasa disebut sebagai refleks bersyarat. Pencetus teori ini adalah Ivan Pavlov, seorang ilmuwan Rusia. Maksud dari refleks bersyarat adalah dimana refleks baru diciptakan secara berurutan dengan mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut.[4]

3.      Teori Pembiasaan Perilaku Respons ( Operant Conditioning )
     Pencetus dari teori ini adalah Burrhus Frederic Skiner. Teori ini merupakan teori belajar yang paling mudah, karena pada teori ini dijelaskan bahwa sejumlah perilaku atau respons yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat ( Reber, 1998 ) . Pada teori ini tidak di dahului oleh stimulus, melainkan didahului oleh reinforcer. Reinforcer adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya respons tertentu.

4.      Teori Behavioristik
Teori belajar menurut aliran ini adalah bahwa hasil belajar tidak disebabkan oleh kemampuan internal manusia tetapi karena faktor stimulus yang menimbulkan respon.[5] Menurut teori ini yang terpenting dalam belajar adalah input yang berupa stimulus, dan output yang berupa respon. Stimulus adalah rangsangan yang diberikan, dan respon adalah perilaku yang muncul setelah mendapat stimulus. Pada teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan sesuatu hal penting untul melihat atau terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

5.      Teori Abraham Maslow ( Teori Perkembangan Emosional )
Teori ini mencakup orientasi umum teori, hierarki kebutuhan, dan upaya menumbuhkan motivasi aktualisasi diri.[6] Maslow menciptakan  sebuah teori mengenai motivasi manusia dikaitkan dengan kebutuhan manusia itu digambarkan sebagai hierarki. Pada hierarki digambarkan lima kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan memiliki dan cinta, kebutuhan kepercayaan diri, serta kebutuhan aktualisasi dan metaneeds.



6.      Teori Herbart
Pencetus teori ini adalah J.F Herbart, dimana teori yang dia kemukakan adalah tentang konsep apersepsi. Dimana apersepsi adalah proses asosiasi antara ide yang baru dengan yang lama tersimpan di dalam bawah sadar pada individu.[7] Menurut Hebart semua persepsi itu hakikatnya adalah apersepsi. Persepsi  atau pengamatan dapat diperoleh dari lingkungan melalui alat indra. Untuk di masa sekarang apersepsi bernama “entry behavior”. Menurut teori ini, tugas guru adalah memberikan buah pikiran yang baik agar anak bisa berbuat baik juga. Dengan pengertian itu hebart menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah mendidik anak menjadi manusia yang bermoral baik. Dari teori inilah guru bisa dianggap sebagai seorang “arsitek” karena guru dituntut harus bisa menciptakan buah pikiran yang dapat digunakan siswa sepanjang hidupnya. Pada teori ini peranan guru sangat ditonjolkan saat pembelajaran berlangsung. Pada teori ini dikemukakan bahwa metode mengajar itu memiliki lima langkah, yakni :
a.       Persiapan
b.      Penyajian
c.       Perbandingan dan abstraksi
d.      Generalisasi
e.       Aplikasi

7.      Teori Gestalt ( Teori Organismik, dan Teori Psikologi Lapangan)
Pencetus teori ini adalah Max Wertheimer, dimana teori ini memiliki dasar pokok aliran psikologi yang berbunyi “keseluruhan lebih dari jumlah bagian – bagiannya. Gestalt sendiri berasal dari Bahasa Jerman yang berarti konfigurasi yang membentuk bulatan secara keseluruhan. Kunci dalam psikologi Gestalt adalah insight, dan pengertian dari insight adalah mula – mula adanya perasaan.[8] Insight dapat diperoleh dengan banyaknya memiliki pengalaman pada diri seseorang. Menurut teori ini, belajar adalah mengembangkan insight pada anak dengan melihat hubungan antara unsur – unsur situasi problematis. Dapat disimpulkan bahwa belajar menurut teori memiliki tujuan agar siswa bisa memainkan imajinasinya dan mengeksplorasi semua kreatifitasnya. Pada teori juga menerapkan prinsip – prinsip dalam belajar, yakni[9] :
a.       Belajar itu dimulai dari sutu keseluruhan.
b.      Keseluruhan memberikan makna kepada bagian-bagian.
c.       Individuasi bagian-bagian dari keseluruhan. Mula-mula anak melihat sesuatu sebagai keseluruhan.
d.      Anak belajar dengan menggunakan pemahaman atau insight.

8.      Teori Kognitif
Teori ini lebih menekankan bahwa pendidikan sebagai proses internal mental manusia. Kognitif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berhubungan dengan atau memperoleh kognisi (kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan (termasuk kesadaran, perasaan, dan sebagainya) atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri). Internal mental yang dimaksud adalah tingkah laku seseorang. Menurut ahli kognitif, tingkah laku manusia yang tampak tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mentalnya.[10] Pada teori ini dijelaskan bahwa belajar adalah peristiwa mental, bukan peristiwa perilaku fisik walaupun terkadang sifat behavioral kadang-kadang tampak terlihat pada saat peristiwa belajar manusia.

9.      Teori Psikologi Daya
Pada teori ini jiwa manusia terdiri dari berbagai daya, mengingat, berpikir, merasakan, kemauan.[11] Pada teori ini bersifat formal, karena pada teori ini hanya mengangkat tentang pembentukan daya – daya. Daya menurut KBBI  adalah kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak. Pada teori psikologi daya tekanannya bukan terletak pada isi materinya, melainkan pada pembentukannya, pendidikan dengan latihan.

10.  Teori Combs
     Teori ini dikemukakan oleh Arthur Combs (1912-1999) bersama dengan Donald Snygg (1904-1967). Teori ini menjelaskan bahwa belajar bisa terjadi jika bagi pelaku menganggap bahwa belajar itu memiliki arti baginya. Di sini guru tidak boleh memaksakan anak didik untuk menyukai sesuatu hal yang tidak mereka sukai. Jika ada keterpaksaan disini murid akan terlihat bodoh ketika pelajaran berlangsung. Padahal pada kondisi tersebut murid itu tidak bodoh, tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya.[12] Pada teori ini, guru dituntut agar bisa memahami perilaku anak didiknya dengan mencoba memahami dunia persepsi mereka, dan guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.

C.    Transfer Belajar
Transfer adalah pindah atau beralih tempat ( menurut KBBI). Transfer belajar adalah pemindahan atau pengalihan hasil belajar yang diperoleh dalam bidang studi yang satu ke bidang studi yang lain atau ke kehidupan sehari-hari diluar lingkup pendidikan sekolah[13]. Menurut Gagne, transfer belajar dapat dibagi empat kategori, yakni :[14]
a.       Transfer Positif : transfer yang bersifat baik terhadap kegiatan belajar selanjutnya.
b.      Transfer Negatif : transfer yang berefek buruk terhadap kegiatan belajar selanjutnya.
c.       Transfer Vertikal : transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan/ketrampilan yang lebih tinggi.
d.      Transfer Lateral : transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan/ketrampilan yang sedrajat.
D.    Faktor yang Mempengaruhi Transfer Belajar
Pada transfer belajar juga mengandung faktor – faktor yang mempengaruhi transfer belajar antara lain :[15]
a.       Proses belajar, kesungguhan motivasi belajar, dan kadar konsentrasi terhadap pelajaran.
b.      Bahan atau materi dalam bidang studi, metode atau prosedur kerja yang diikuti dan sikap dibutuhkan dalam bidang studi.
c.       Transfer belajar mengendalikan adanya kesamaan.
d.      Faktor – faktor subyektif siswa.


[1]  Mahmud, Psikologi Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2010, hlm. 72.
[2]  Ibid, hlm. 73.
[3]  Soegeng Santoso, Dasar – Dasar Pendidikan TK, Jakarta: Universitas Terbuka, 2005, hlm. 34.
[4]  Op. Cit, hlm. 74.
[6]  Rini Hildayani, Psikologi Perkembangan Anak, Jakarta: Universitas Terbuka, 2004, hlm. 212.
[10]  Mahmud, Psikologi Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2010, hlm. 82.
[12]  http://www.tokoh-ilmuwan-penemu.com/2009/06/teori-humanistik-arthur-combs.html, 14-04- 2012, pukul: 23.15.
[14]  Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, Jakarta: Rajawali Pers, 2011, hlm. 160.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Entri Populer