A.
Teori Belajar
Para psikologi pendidikan memunculkan istilah teori belajar setelah
mereka mengalami kesulitan ketika akan menjelaskan proses belajar secara
menyeluruh. Dari kesulitan tersebut munculah beberapa presepsi berbeda dari
para psikolog, sehingga menghasilkan dalil – dalil yang memiliki inti kalau
teori belajar adalah alat bantu yang sistematis dalam proses belajar.[1]
Teori – teori belajar dikalangan psikolog bersifat eksperimental,
dimana teori yang mereka kemukakan hanyalah berupa pendapat dari pengalaman
mereka ketika dalam kegiatan belajar berlangsung. Dari interaksi tersebut, para
psikolog menyusun proposisi yang mereka tekuni sehingga menghasilkan mahzab
yang mereka ciptakan itu bisa digunakan sebagai landasan pola pikir mereka.
Dapat disimpulkan kalau, teori adalah pendapat.[2]
B.
Macam – Macam Teori Belajar
1.
Teori
Throndike ( Koneksionisme Bond Psychology )
Pada teori Throndike
dijelaskan bahwa belajar memiliki sifat trial and error.[3]
Dan yang menjadi dasar belajar adalah adanya pembentukan antara stimulus dan respons.
Sehingga dapat disimpulkan pengertian belajar dalam teori ini, adalah
pembentukan hubungan antara stimulus dan respons.
2.
Teori
Pavlonisme ( Classical Conditioning )
Pada teori Pavlonisme
dijelaskan kalau teori ini biasa disebut sebagai refleks bersyarat. Pencetus
teori ini adalah Ivan Pavlov, seorang ilmuwan Rusia. Maksud dari refleks
bersyarat adalah dimana refleks baru diciptakan secara berurutan dengan
mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut.[4]
3.
Teori
Pembiasaan Perilaku Respons ( Operant
Conditioning )
Pencetus dari teori ini
adalah Burrhus Frederic Skiner. Teori ini merupakan teori belajar yang paling
mudah, karena pada teori ini dijelaskan bahwa sejumlah perilaku atau respons
yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat ( Reber, 1998 ) .
Pada teori ini tidak di dahului oleh stimulus, melainkan didahului oleh
reinforcer. Reinforcer adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan
timbulnya respons tertentu.
4.
Teori Behavioristik
Teori belajar
menurut aliran ini adalah bahwa hasil belajar tidak disebabkan oleh kemampuan
internal manusia tetapi karena faktor stimulus yang menimbulkan respon.[5]
Menurut teori ini yang terpenting dalam belajar adalah input yang berupa
stimulus, dan output yang berupa respon. Stimulus adalah rangsangan yang
diberikan, dan respon adalah perilaku yang muncul setelah mendapat stimulus.
Pada teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan sesuatu hal
penting untul melihat atau terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku
tersebut.
5.
Teori
Abraham Maslow ( Teori
Perkembangan Emosional )
Teori ini mencakup
orientasi umum teori, hierarki kebutuhan, dan upaya menumbuhkan motivasi
aktualisasi diri.[6]
Maslow menciptakan sebuah teori
mengenai motivasi manusia dikaitkan dengan kebutuhan manusia itu digambarkan
sebagai hierarki. Pada hierarki digambarkan lima kebutuhan manusia, yaitu
kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan memiliki dan cinta, kebutuhan
kepercayaan diri, serta kebutuhan aktualisasi dan metaneeds.

6.
Teori Herbart
Pencetus teori
ini adalah J.F Herbart, dimana teori yang dia kemukakan adalah tentang konsep
apersepsi. Dimana apersepsi adalah proses asosiasi antara ide yang baru dengan
yang lama tersimpan di dalam bawah sadar pada individu.[7]
Menurut Hebart semua persepsi itu hakikatnya adalah apersepsi. Persepsi atau pengamatan dapat diperoleh dari
lingkungan melalui alat indra. Untuk di masa sekarang apersepsi bernama “entry
behavior”. Menurut teori ini, tugas guru adalah memberikan buah pikiran yang
baik agar anak bisa berbuat baik juga. Dengan pengertian itu hebart
menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah mendidik anak menjadi manusia yang
bermoral baik. Dari teori inilah guru bisa dianggap sebagai seorang “arsitek”
karena guru dituntut harus bisa menciptakan buah pikiran yang dapat digunakan
siswa sepanjang hidupnya. Pada teori ini peranan guru sangat ditonjolkan saat
pembelajaran berlangsung. Pada teori ini dikemukakan bahwa metode mengajar itu
memiliki lima langkah, yakni :
a.
Persiapan
b.
Penyajian
c.
Perbandingan
dan abstraksi
d.
Generalisasi
e.
Aplikasi
7.
Teori
Gestalt ( Teori Organismik, dan Teori
Psikologi Lapangan)
Pencetus teori
ini adalah Max Wertheimer, dimana teori ini memiliki dasar pokok aliran
psikologi yang berbunyi “keseluruhan lebih dari jumlah bagian – bagiannya. Gestalt
sendiri berasal dari Bahasa Jerman yang berarti konfigurasi yang membentuk
bulatan secara keseluruhan. Kunci dalam psikologi Gestalt adalah insight,
dan pengertian dari insight adalah mula – mula adanya perasaan.[8] Insight
dapat diperoleh dengan banyaknya memiliki pengalaman pada diri seseorang.
Menurut teori ini, belajar adalah mengembangkan insight pada anak dengan
melihat hubungan antara unsur – unsur situasi problematis. Dapat disimpulkan
bahwa belajar menurut teori memiliki tujuan agar siswa bisa memainkan
imajinasinya dan mengeksplorasi semua kreatifitasnya. Pada teori juga
menerapkan prinsip – prinsip dalam belajar, yakni[9] :
a.
Belajar
itu dimulai dari sutu keseluruhan.
b.
Keseluruhan
memberikan makna kepada bagian-bagian.
c.
Individuasi
bagian-bagian dari keseluruhan. Mula-mula anak melihat sesuatu sebagai
keseluruhan.
d.
Anak
belajar dengan menggunakan pemahaman atau insight.
8.
Teori Kognitif
Teori ini lebih
menekankan bahwa pendidikan sebagai proses internal mental manusia. Kognitif
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berhubungan dengan atau memperoleh
kognisi (kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan (termasuk kesadaran,
perasaan, dan sebagainya) atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman
sendiri). Internal mental yang dimaksud adalah tingkah laku seseorang. Menurut
ahli kognitif, tingkah laku manusia yang tampak tidak dapat diukur dan
diterangkan tanpa melibatkan proses mentalnya.[10] Pada
teori ini dijelaskan bahwa belajar adalah peristiwa mental, bukan peristiwa
perilaku fisik walaupun terkadang sifat behavioral kadang-kadang tampak
terlihat pada saat peristiwa belajar manusia.
9.
Teori Psikologi Daya
Pada teori ini
jiwa manusia terdiri dari berbagai daya, mengingat, berpikir, merasakan,
kemauan.[11]
Pada teori ini bersifat formal, karena pada teori ini hanya mengangkat tentang pembentukan
daya – daya. Daya menurut KBBI adalah kemampuan
melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak. Pada teori psikologi daya
tekanannya bukan terletak pada isi materinya, melainkan pada pembentukannya,
pendidikan dengan latihan.
10. Teori
Combs
Teori ini dikemukakan oleh Arthur Combs (1912-1999) bersama dengan
Donald Snygg (1904-1967). Teori ini menjelaskan bahwa belajar bisa terjadi jika bagi pelaku menganggap bahwa belajar itu
memiliki arti baginya. Di sini guru tidak boleh memaksakan anak didik untuk
menyukai sesuatu hal yang tidak mereka sukai. Jika ada keterpaksaan disini
murid akan terlihat bodoh ketika pelajaran berlangsung. Padahal pada kondisi
tersebut murid itu tidak bodoh, tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan
merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya.[12] Pada teori ini, guru dituntut agar bisa memahami perilaku
anak didiknya dengan mencoba memahami dunia persepsi mereka, dan guru harus
berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.
C.
Transfer Belajar
Transfer adalah pindah atau beralih tempat (
menurut KBBI). Transfer
belajar adalah pemindahan atau pengalihan hasil belajar yang diperoleh dalam bidang studi yang satu ke bidang studi yang
lain atau ke kehidupan sehari-hari diluar lingkup pendidikan sekolah[13]. Menurut Gagne, transfer
belajar dapat dibagi empat kategori, yakni :[14]
a.
Transfer Positif : transfer yang bersifat baik
terhadap kegiatan belajar selanjutnya.
b.
Transfer Negatif : transfer yang berefek buruk
terhadap kegiatan belajar selanjutnya.
c.
Transfer Vertikal : transfer yang berefek baik
terhadap kegiatan belajar pengetahuan/ketrampilan yang lebih tinggi.
d.
Transfer Lateral : transfer yang berefek baik
terhadap kegiatan belajar pengetahuan/ketrampilan yang sedrajat.
D.
Faktor yang Mempengaruhi Transfer Belajar
Pada transfer belajar juga mengandung faktor – faktor
yang mempengaruhi transfer belajar antara lain :[15]
a.
Proses belajar, kesungguhan motivasi belajar, dan
kadar konsentrasi terhadap pelajaran.
b.
Bahan atau materi dalam bidang studi, metode atau
prosedur kerja yang diikuti dan sikap dibutuhkan dalam bidang studi.
c.
Transfer belajar mengendalikan adanya kesamaan.
d.
Faktor – faktor subyektif siswa.
[1] Mahmud, Psikologi Pendidikan, Bandung:
Pustaka Setia, 2010, hlm. 72.
[2] Ibid, hlm. 73.
[3] Soegeng Santoso, Dasar – Dasar Pendidikan
TK, Jakarta: Universitas Terbuka, 2005, hlm. 34.
[4] Op. Cit, hlm. 74.
[6] Rini Hildayani, Psikologi Perkembangan Anak,
Jakarta: Universitas Terbuka, 2004, hlm. 212.
[10] Mahmud, Psikologi Pendidikan, Bandung:
Pustaka Setia, 2010, hlm. 82.
[12]
http://www.tokoh-ilmuwan-penemu.com/2009/06/teori-humanistik-arthur-combs.html,
14-04- 2012,
pukul: 23.15.
[14] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar,
Jakarta: Rajawali Pers, 2011, hlm. 160.
[15]
http://www.scribd.com/doc/60015105/89/E-Factor-faktor-yang-berperanan-dalam-transfer-belajar, 16-04-2012, pukul: 00.50.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar