Sabtu, 03 Maret 2012
Ku Awali dari Bermimpi
MAN
JADDA WAJADA!!
Mantra ajaib yang ku percaya
ketika aku sedang menuliskan mimpiku di atas “MY DREAM BOARD”. Cukup dengan
percaya diri yang tinggi dan usaha yang maksimal, saya yakin semua yang aku
impikan akan terwujud satu persatu. Mimpi itu semua sudah aku tuliskan sejak
aku masih duduk di bangku SMA kelas XII. Awalnya aku hanya sebatas berani
bermimpi dalam angan. Namun setelah aku ikut training di SMA Hidayatullah, aku
mulai berani mengeksplorasikan semua mimpiku satu persatu di atas kertas karton
yang berukuran double. Tujuan dari pengeksplorasian mimpiku itu tak lain
hanyalah agar semua orang tahu dengan apa yang ku impikan. Dengan tahunya
mereka, itung – itung bisalah aku mendapatkan bantuan doa dari mereka semua. Ilmu
tersebut aku dapatkan dari Bapak Happy Trenggono, sang motivator hebat utnuk
para pemuda yang memiliki mimpi yang begitu tinggi.
Awalnya mungkin banyak yang
mencerca dengan apa yang ku perbuat, bahkan orang yang pertama mencerca itu
adalah orang yang aku kagumi di dunia no 2 setelah Nabi Muhammad. Beliau adalah
Bapakku, sungguh miris memang ketika beliau bilang janganlah terlalu
mengkhayal. Perlahan namun pasti akupun berusaha membuktikan kepada beliau,
kalau aku mampu meraih itu semua. Seiring berjalannya waktu, bapak terbawa arus
mimpiku. Beliau berubah derastis, dan beliau selalu memberiku semangat untuk
terwujudnya mimpiku.
Mengetahui hal tersebut, senang
bukan kepayang kalau aku punya pendukung lain selain ibuku. Ibuku memang luar
biasa bagiku, motivasi darinya selalu membuatku semangat untuk bekerja keras. Beliaulah
yang mengajak bapakku untuk mendukungku. Luar biasa kedengarannya.
Hari berganti hari, aku selalu
menambahkan mimpi-mimpi yang aku inginkan. Ku tuliskan itu semua dengan rapi,
seperti list belanjaan yang akan di beli. Entah berapa banyak jumlah mimpiku
saat ini, mungkin sudah seratus lebih. Perlahan tapi pasti mimpi yang ku
inginkan sudah ada yang terealisasi. Teruslah bersemangat untuk meraih mimpi. Siapa lagi kalau bukan kita sendiri yang menjadi penyemangat utama, ketika kita punya mimpi yang begitu tinggi..
:))
:))
Kamis, 01 Maret 2012
CeritaKu
Aku Bosan !!!
Itu yang ku
ucapkan kepada ibuku, ketika aku sudah mulai jenuh akan aktifitas kuliah
setahun yang lalu. Aku sudah bosan dengan semua aktivitas yang ada di kampus.
Pemberontakan sudah aku mulai tahap demi tahap. Puncak dari pemberontakan itu
tumpah saat bulan kedua, dimana aku sudah menginjak semester dua di
perkuliahan. Tapi pemberontakan itu hanya berjalan seperti misi rahasia 007. Semuanya
serba tertutup, semuanya serba sendiri, semuanya serba bungkam. Hanya saya dan
tuhan saja yang tahu. Awalnya aku hanya berani mencurahkan itu semua kepada
ibuku, karena aku tahu hanya beliaulah yang memahami apa yang ku mau. Awalan
ketika aku menceritakan itu semua, aku hanya bisa melihat ibuku menangis sedih,
karena anak perempuan satu – satunya bisa melenceng dari perkiraan. Sungguh tak
kuat sebenarnya aku melihat adegan ini, tapi apa boleh buat.
Sekuat tenaga
beliau mencoba mengarahkanku berkali – kali. Tiap hari, tiap waktu, beliau tak
pernah bosan untuk selalu mengingatkanku. Beliau menyuruhku untuk berpikir
lagi, beliau menyuruhku untuk shalat istikharah, untuk memprtimbangkan
keputusan yang aku ambil nanti. Semua itu hanya ku anggap angin lalu, karena
aku sudah bertekat bulat. Sampai – sampai aku melihat ibuku merasa putus asa
mengarahkanku. Sampai akhirnya mengalihkan semua itu ke bapakku. Reaksi bapakku
pun sama, beliau juga terseret arus yang sama dengan ibuku. Hal seperti
janganlah di contoh oleh antum semua. Cukuplah hanya di saya.
Setelah
berdebat lama selama 1 bulan berturut – turut orang tuaku pun memasrahkan itu
semua kepada aku. Aku di bebaskan mereka untuk menentukan arah hidupku. Beliau mengijinkan
aku untuk keluar dari universitas ternama di Kota Semarang. Di balik ijin itu
terbesit sarat yang harus aku lakukan ketika aku gagal dengan semua yang ku
inginkan. Aku ingin keluar dari kampus itu, dan aku ingin ikut mendaftar kuliah
lagi di universitas lain. Namun dibalik itu semua bapakku mengajukan sarat
kepadaku, “kamu boleh pindah asalkan keterima di negeri, kalau tidak kamu harus
berkosekuensi kembali ke kampus yang dulu.” “dan sebelum kamu keluar, kamu
harus tetap mengikuti perkuliahan itu sampek semester dua berakhir.” Terdengar sarat
seperti itupun aku tertantang untuk maju kedepan. Tapi, aku terganjal dengan
syarat terakhir itu. Aku sudah bosan aku tidak mau lagi.
Penuh dengan
sandiwara, setiap hari aku ijin ke orang tua pergi kuliah namun aku malah pergi
ke tempat lain dimana aku bisa merasakan kehidupan yang aku inginkan. Aku pergi
sana – sini mencari info. Info mulai beasiswa/non beasiswa di luar negeri, info
tentang snmptn, info tentang pendaftaran universitas negeri, dan banyak info
lainnya. Semua itu aku awali untuk ikut mendaftar beasiswa ke luar negeri. Aku ingin
sekali bersekolah di daerah timur tengah, mulai dari mesir, maroko, iran,
turki, sudan dan negara lainnya yang ada di timur tengah. Aku mencoba untuk
mengirim aplikasi yang pertama untuk mendaftar di Universitas Kairo. Tapi sebelum
di kirim ke sana, harus melewati proses di Kedubes Mesir yang ada di Jakarta. Aku
kirimkan itu semua berkasku kesana, berupa kopian pasport, ada kopian ijasah yang sudah di
transletkan ke bahasa arab, ada kopian surat keterangan semuanya yang di artikan ke
bahasa arab, pokonya sudah lengkap semua.
Beberapa hari
setelah pengiriman itu semua aku mendapatkan telpon dari kedubes, nanti pasti
ada pemberitahuan tersurat yang akan dikirim ke aku, entah semisal aplikasi itu
diterima atau di tolak. Sembari menunggu lamanya pemberitahuan, akupun mencari –
cari informasi untuk pendaftaran lainnya. Aku mencoba daftar SNMPTN, di tes ini
aku mengambil tes IPC. Universitas ini aku pilih di Universitas Negeri
Semarang. Ke tiga jurusan aku pilih disana semua. Selain itu aku mencoba
mencari informasi pendaftaran diUniversitas Islam Negeri. Pertama aku tertarik
dengan UIN Sunan Kalijaga, hal yang membuatku tertarik dengan universitas itu
adalah karena letaknya di Jogja. Sekolah di Jogja merupakan salah satu
impianku, lalu kedua aku tertarik dengan UIN Maulana Malik Ibrahim yang di
Malang. Seneng deh susananya kalau mendengar nama Kota Malang. Dan yang
terakhir aku tertarik di IAIN Walisongo semarang(balik di kota asal).
Setelah
menunggu itu semua, aku mencoba mendaftar tes di Universitas Islam Negeri. Di saat
aku mendaftar, ada saran dari bapak. Kalau aku di suruh milih di daerah deket
semarang aja. Di saat ini akupun berubah menjadi anak yang patuh kepada orang
tua. Aku turuti semua itu. Aku putuskan untuk pilihan pertama di IAIN Walisongo
jurusan Tadris Matematika, pilihan kedua aku memilih UIN Sunan Kalijaga jurusan
Pendidikan Bahasa Arab, pilihan ketiga aku memilih IAIN Walisongo jurusan
Ekonomi Islam. Alhasil, Allah begiru baik kepada ku. Aku mendapatkan berkah
dariNya, Aku keterima di UNNES jurusan Pendidikan Bahasa Arab, dan aku juga
keterima di IAIN Walisongo jurusan Tadris Matematika. Mulailah dilanda
kegalauan, aku harus memilih yang mana. Belum puas dengan dua itu, aku masih
menunggu pengumuman aplikasi di terima atau tidak. Tapi untuk yang satu ini,
Allah tidak mengabulkannya. Semua berkasku di tolak, karena pada saat itu Mesir
lagi bergejolak. Untuk semua pendaftaran di sana ditunda, yang Al azhar pun
kelihatannya juga begitu. Lalu aku di takdirkan hanya untuk memilih salah satu
dari dua jurusan itu.
Aku mencoba
meminta arahan dari Bapak dan Ibuku, tapi dengan kompaknya mereka menyuruh aku
untuk menetukannya sendiri. Alasannya beliau tidak ingin lagi anaknya gagal
dengan pilihan mereka. Tanya teman, tanya saudara, tanya pacar(saat itu masih
ada batang hidungnya, tapi sekarang entah pergi kemana), tanya siapapun
jawabannya sama “TERSERAH KAMU”. Galau deeeeehh...
Dengan peliknya
aku mencoba untuk shalat istikharah, aku meminta kepada Allah untuk menunjukkan
arahku. Aku memohon ampun padanya, aku berusaha ikhlas dengan semua
keputusannya. Dan akhirnya semua itu terjawab, aku memilih IAIN Walisongo. Awalnya
aku sempat berkoar – koar pada semua pihak kalau aku akan memilih UNNES. Tapi aku
coba menganalisa kembali, kalau aku ambil yang di UNNES, aku akan bisa meraih
mimpiku untuk berlanjut ke Timur Tengah. Tapi hanya dengan jurusan yang berbau
agama saja. Disisi lain aku berpikir lagi, kalau saya ambil di UNNES bagaimanan
nantinya? Modal berbahasa arabpun aku hanya bisa yang standar bahkan di bawah
standar, lalu bagaimana dengan nantinya? Aku takut kalau bertemu dengan
kebosanan lagi. Berpindah jalur memilih IAIN, aku pertimbangkan kembali. Kemampuanku
memang lebih tajam di bidang eksak, dan kelemahanku di bidang teori. Aku gali
kembali, mana yang harus aku pilih. Melihat di “MY DREAM BOARD” aku jadi lebih
mantap memilih di IAIN. Di papan mimpiku itu aku tuliskan harus mendapatkan beasiswa
di luar negeri. Kalau aku ambil di UNNES mungkin aku hanya bisa mendapatkan
mimpi itu di Timur Tengah saja. Tapi kalau aku pilih di IAIN aku pasti akan
bisa memilih negara yang aku suka untuk melanjutkan mimpiku kelak.
Memang terlalu
tinggi mimpiku, tapi mau bagaimana lagi?? Berkaca dari kebanyakan orang sukses,
mereka bisa sukses karen mereka berangkat dari mimpi terlebih dahulu. Dari situlah
aku menerapkan prisip dalam hidupku, “Bermimpilah Selagi Kau Masih Mampu dan Masih
Mau.”
Langganan:
Komentar (Atom)
Entri Populer
-
Penelitian sanad dan matan biasanya disebut dengan kritik sanad dan kritik matan. Penelitian yang dilakukan tidak bermaksud untuk ti...
-
1. Apa yang menjadi obyek kajian ilmu pendidikan ? Yang menjadi objek kajian ilmu pendidikan adalah pertumbuhan dan perkembangan anak di...
-
1. Apa yang dimaksud studi islam itu dan apa pula obyek kajiannya ? Studi islam atau pendidikan islam itu merupakan suatu upaya untuk me...
-
Hadis Nabi adalah sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an. Dilihat dari segi periwayatannya, hadis berbeda dengan al-Qur’an. Pada al...
-
A. PENDAHULUAN Museum Ronggowarsito merupakan museum terbesar di provinsi jawa tengah yang menyajikan berbagai koleksi sejarah, alam...
-
A. LATAR BELAKANG MUNCULNYA PEWAYANGAN Tidak ada bukti akurat mengenai awal munculnya asal – usul dan perkembangan pewayangan ...






