A. Pengertian
Aqidah
Aqidah
berasal dari kata al-‘aqdu yaitu
ikatan. Menurut pengertian dalam agama, Aqidah adalah sebuah keyakinan dan
kepercayaan yang dimiliki oleh manusia untuk mempercayai suatu ketetapan.
Pengertian
secara istilah, Aqidah adalah perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa
menjadi tentram karenanya, sehingga menjadi sesuatu kenyataan yang teguh dan
kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.
Pemahaman
Aqidah terklasifikasikan menjadi enam hal yaitu, makrifat kepada Allah,
makrifat kepada alam, makrifat kepada kitab-kitab Allah, makrifat kepada nabi
dan para utusan Allah, makrifat pada hari akhir, dan makrifat kepada qadla.[1]
B. Hal
– hal yang mengotori Aqidah
Hal
– hal yang mengotori aqidah adalah perilaku syirik, sihir, memakan riba,
memakan harta anak yatim, membunuh orang, berperilaku sombong, kufur, nifak,
dll.
Berikut
hadist tentang tujuh pengrusak aqidah:
اِجْتَنِبُوا
السَّبْعَ الْمُوْبِقَاَ تِ. قَاَلُوْ يَا رَسُول اللِه وَماَ هُنَّ قاَلَ : الشِّرْكُ
بِا للهِ وَالسِّحْرُ وَ قَتْلُ النَّفْسِى الَّتِى حَرَّمَ اللهُ أِلاَّ باِ لْحَقِّ
وَ أَ كْلُ الرِّ بَا وَ اَكْلُ مَا لِ الْيَتِيْمِ وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ
وَ قَذْفُ الْمُحْصَنَا تِ الْغَافِلاَ تِ الْمُؤْمِنَاتِ
Artinya:
Jauhilah tujuh
pengrusak. Mereka bertanya: “Apa itu ya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Syirik
kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq,
makan riba, makan harta anak yatim, meninggalkan barisan tempur, dalam
peperangan dan menuduh zina terhadap wanita yang telah bersuami lagi beriman
yang tidak tahu menahu.”[2]
Ø Perilaku
Syirik
Syirik
adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang merupakan
kekhususan Allah.[3] Orang
yang melakukan perbuatan syirik disebut musyrik. Perbuatan syirik ini merupakan
perbuatan yang berdosa besar.
Syirik
dibagi menjadi dua, Syirik Akbar dan Syirik Asghar. Syirik akbar adalah memalingkan
sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah.[4]
Perbuatan syirik akbar tidak akan
mendapatkan ampunan dari Allah, dan pelakunya itu tidak akan masuk surga
selamanya, bahkan untuk siksaannya di neraka itu sifatnya kekal.
Syirik
Akbar (syirik besar) di bagi menjadi empat
macam, yaitu pertama Syirik Dakwah(doa) maksutnya disamping
berdoa kepada Allah, si pelaku juga berdoa kepada selain Allah. Kedua syirik
niat, keinginan, dan tujuan yaitu si pelaku menunjukkan bentuk ibadah untuk
selain Allah. Ketiga syirik ketaatan, yaitu menaati selain Allah dalam hal
maksiat kepada Allah. Keempat syirik kecintaan(mahabbah) yaitu menyamakan
selain Allah dengan Allah dalam hal Allah dalam hal kecintaan.
Syirik
Asghar (syirik kecil) merupakan salah satu perbuatan yang mengandung dosa
besar, tapi ada perbedaan dengan syirik akbar. Perbedaanya adalah syirik asghar
tidak menjadikan pelakunya keluar dari Agama Islam, tetapi ia mengurangi tauhid
dan merupakan perantara(wasilah) kepada syirik besar.[5]
Syirik Asghar ada dua macam, Syirik Nyata(Zhahir) dan Syirik Tersembunyi
(Khafi).
Ø Perilaku
Kufur
Kufur
memiliki arti sebagai sikap yang selalu merasa kurang dengan apa yang telah
diberikan Allah kepada kita. Sikap kurang inilah yang menandakan kalau manusia
itu tidak pernah bersyukur akan nikmat yang diberikan Allah.
Semantik
dari kufur itu berawal lima kata kunci yang dianalisa, pertama fisq atau fusuq (fasiq), ke dua fajr
atau fujur (jujur), ke tiga zulm (zalim), ke empat i’tida’ (mu’tadi), dan yang ke lima israf (musrif).[6]
Fasiq
merupakan sikap yang menyimpang dari ketaatan, atau perbuatan yang mengingkari
semua yang diperintahkan oleh Allah. Fasiq merupakan sinonim dari kata kafir.
Dari dua kata tersebut tidak ada informasi mengenai perbedaan yang bisa
membedakan antara dua kata itu. Cara lain untuk bisa menentukan perbedaan itu
dengan cara mengesankan adanya suatu perbedaan, yang nantinya membentuk suatu
tingkatan yang berkenaan dengan kualitas kata-katanya. Tingkatannya yaitu Fisq
=> Kufr, dimana Fisq menempati tingkat tertinggi dan Kufr di bawahnya. Jadi
penggunaan kata fasiq lebih luas daripada kafir.
Fajr,
kata fajr di sini mengacu pada perbuatan orang beriman yang berperilaku jelek.
Biasanya kata fajara dikaitkan dengan
kata kafara. Terlihat jelas kalau
kata fajir merupakan seseorang yang
bertingkah laku buruk. Hal tersebut merupakan bukti akan penolakan dalam
mempelajari ajaran Islam.
Zalm,
atau bisa disebut zalim merupakan sikap menyakiti seseorang dengan melampaui
batas wajar dan melanggar hak orang lain. Di mana hal tersebut sudah berada
pada kedudukan yang keliru. Menurut pengertian secara umum, zulm adalah berbuat
ketidakadilan secara melampaui batas dan melakukan sesuatu yang bukan haknya.[7]
Ø Perilaku
Sombong
Sombong
merupakan sikap yang merasa dirinya itu lebih tinggi dari orang lain. Sombong
sama dengan takabur. Sombong salah satu dari perbuatan yang mengandung akhlak
tercela.
Sombong
dibagi menjadi dua macam, yaitu sombong lahir, dan sombong batin. Sombong lahir
adalah perbuatan sombong yang dilakukan oleh anggota badan dan jelas terlihat.
Sombong Batin adalah sifat sombong di dalam jiwa atau hati yang tidak terlihat.[8]
Ø Sihir
Sihir adalah jimat-jimat, mantera-mantera yang dapat
berpengaruh pada jiwa dan badan.[9]
Sihir ada tujuh macam, yaitu “ifayah(memasukkan burung kedalam sangkar
kemudian dibentak, dikerjakan pada zaman jahiliyah), thiyaroh(menentukan
nasib dengan suara), Ath-Tharqu( ramalan dengan garis), At-Tanjim(
perbintangan, astrologi), Namimah( mengadu domba,dan bayan(
susunan kata yang indah).[10]
[1]
Sayid Sabiq, Akidah Islam,
Surabaya: Al – ikhlas, 1996, hlm. 32.
[2]
Muhammad bin Abdul Wahhab, Bersihkan
Tauhid Anda dari Noda Syirik, Surabaya: Bina Ilmu, 1978, hlm. 88.
[3]
Shalih bin Fauzan bin Abdullah
al-Fauzan, Kitab Tauhid, Jakarta: Darul Haq, 2008, hlm. 5.
[4]
Shalih bin Fauzan bin Abdullah
al-Fauzan, Kitab Tauhid, Jakarta: Darul Haq, 2008, hlm. 8.
[5]
Shalih bin Fauzan bin Abdullah
al-Fauzan, Kitab Tauhid, Jakarta: Darul Haq, 2008, hlm. 10.
[6]
Tishihiko Izutsu, Etika Beragama
Dalam Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus, cet. I, 1993, hlm. 251.
[7]
Tishihiko Izutsu, Etika Beragama
Dalam Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus, cet. I, 1993, hlm. 265.
[8] Siti
Mubarokatut, Akidah Akhlak, Semarang:
Sultan Agung Press, 2008, hlm. 53.
[9]
Muhammad bin Abdul Wahhab, Bersihkan
Tauhid Anda dari Noda Syirik, Surabaya: Bina Ilmu, 1978, hlm. 87.
[10]
Muhammad bin Abdul Wahhab, Bersihkan
Tauhid Anda dari Noda Syirik, Surabaya: Bina Ilmu, 1978, hlm. 90.